Selasa, 09 Juni 2015 - 0 komentar

Diam Diam Suka


Sesungguhnya dia ada didekatmu, tapi kau tak pernah menyadari itu
Yang selalu menunggumu untuk nyatakan cinta — Drive (Akulah Dia)

       “SAYA cinta kamu.” Katanya dengan ragu. Ia tatap wajah gadis itu lekat-lekat. Takut-takut. Sesungguhnya, ia ingin gadis itu bereaksi atas pengakuannya—yang sedikit mendadak. Tapi gadis itu hanya diam. Takzim menyeruput jus sirsaknya, sembari tersenyum lebar. Sayangnya, dia sama sekali tidak mendengar pengakuan pria didepannya. Bagaimana tidak, dia—pria dengan hidung mancung itu hanya meneriakan tiga kata itu dalam hati. Ia hanya melamun. Berharap. Sayang sekali, kalimat indah itu harus jauh tertinggal di kerongkongannya. Bibirnya tak sanggup berucap. Setelah mendengar pengakuan gadis dengan senyum manis itu. Rasanya bumi runtuh seketika. Berton-ton serpihan bangunan ada di punggungnya. Mencekat suaranya begitu saja.
       “Kamu kenapa Mam?” kata gadis itu khawatir.
       Pria yang di panggil itu menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Gadis itu ber-Oh. Lalu dengan cekatan mengambil buku menu. “Kayaknya nggak ada menu yang spesial buat berita yang sepesial hari ini.” matanya cekatan membaca daftar menu. “Semua sudah pernah kita coba, Mam.” Dia sama sekali tidak mengalihkan tatapan kepada mata yang sejak empatpuluh menit itu menatapnya. Bukan tatapan yang biasa ia tunjukan. Entah bagaimana tatapan itu berubah. Mungkin sejak gadis didepannya itu menelponnya dua jam lalu. Menyuruh ia segera datang ke kafe HÔo-Land ini.
       “Kamu, nggak bermaksud berhenti kuliahkan?” ia berkata pelan. Lebih baik membicarakan sesuatu yang lain dari pada harus panjang lebar menanyai perasaan gadis itu. Tentu, karena jawabannya yang entah kenapa akan terdengar menakutkan. Terutama bagi kondisi otak dan jantungnya saat ini.
       Pertanyaan itu membuat mata gadis itu seketika menatapnya. Ia tersenyum lebar. Menggeleng.
       “Tentu saja tidak akan Imam. Saya akan terus kuliah. Meskipun status saya akan berubah.”
       Pria itu; Imam menelan ludah mendengar jawaban terus terang gadis di depannya. Ia salah. Pertanyaan itu justru membuat dadanya semakin sesak saja. Yang dilakukannya kali ini adalah menatap kesembarang arah. Atau menatap atap kafe HÔo-Land ini untuk membendung air matanya yang hampir jatuh. Celakalah ia, jika gadis didepannya itu tahu kondisinya saat ini. Ia pasti tak akan sungkan menanyakan segalanya. Lebih tepatnya mendesak. Dan pada akhirnya, ia terpaksa menangis atau bahkan mengatakan rahasianya sendiri. Rahasia yang tak pernah ingin ia bagi-bagi. Cukup ia dan Tuhan yang tahu.
Untung saja, gadis itu kembali sibuk dengan menu makanan. Tidak percaya kepada daftar menu-menu disana. Tidak berubah. Sehingga tidak ada makanan baru yang harus ia dan Imam cicipi untuk perayaan kecil tentang berita spesialnya.
“Prima akan menjadi pria yang sangat beruntung.”
Sepertinya, Imam orang yang nekat. Meskipun basa-basinya itu membuat dadanya sesak. Entah kenapa ia justru perlu melakukannya. Mungkin, menghargai senyum yang terkembang di bibir gadis berparas ayu itu memang diperlukan.
Gadis itu menoleh lagi. Iya mengangguk dengan cepat.
“Saya yang lebih beruntung Mam.”
Imam tersenyum.
“Mas dan Mbak saya di Solo sudah setuju. Juga Paman dan Bibi saya di Lampung. Semua keluarga saya senang mendengar berita ini.” ia bercerita lagi. Meletakkan buku menu di ujung meja dekat dinding. Mungkin menu itu memang tidak akan pernah berubah. “Paman Muhammad. Yang sering kuceritakan itu, yang kuhormati dan kusebut sebagai ayah kedua saya. Dia juga yang menyakinkan keputusan saya.”
Imam tersenyum kembali.
“Dia bilang, daripada pacaran nggak ada ujungnya. Lebih baik meresmikannya dengan konsep cinta yang lebih jelas.” Dia tertawa. “Paman memang lucu. Sejak dulu saya memang tidak menyebut Prima sebagai pacar kan.”
Imam mengangguk. Mungkin, itu juga diperlukan.
“Kapan pernikahan itu dilangsungkan Vi?” sebenarnya, Imam takut menyanyakan ini. Namun dia harus berani. Bukankah semuanya memang sudah terlambat? Sudah dihancurkan sebelum dibangun?
“Kamu bakalan tahu nanti. Prima pasti akan bercerita padamu.”
Vi tersenyum. Akhirnya, dia memutuskan untuk memesan menu yang sama seperti dulu-dulu. Mie Ayam Level 7 dengan satu gelas jus sirsak (lagi).


###

Dua minggu lalu.

“Vi, kamu bisa datang ke HÔo-Land?” Imam sedang duduk menatap jalanan dibalik kaca. Ia senang bukan main. Hari ini dia mendapat kekuatan berkat teman satu tim di BEM. Dia bagai punya keberanian amat mengagumkan. Dia punya kekuatan untuk menyatakan cinta. Untuk seorang gadis yang diam-diam ia sukai sejak SMP. Sejak duduk dibangku kelas sembilan. Gadis yang pernah menjadi tempatnya curhat. Gadis yang menurutnya sangat enak diajak bicara. Apapun masalahnya, dia adalah tempat yang cocok untuk membagi cerita.
“Ada apa?” Vi bertanya diujung telepon.
“Ada yang harus saya bicarakan. Penting! Lima belas menit ya Vi.” Imam tersenyum. Tiba-tiba saja dia merasa seperti perampok yang meminta tebusan uang ratusan juta. Tapi hatinya kali ini begitu gembira. Ia tak mampu menahan ledakan bahagia dihatinya.
Vi mengeluh. Tapi dia tak bisa menolak permintaan Imam.
Lima belas menit tepat. Vi sampai didepan HÔo-Land. Membuka helm kuningnya. Segera masuk. Ia sudah melihat Imam dari kaca jendela. Ia tersenyum amat lebar. Membuat Vi kebingugan.
“Kenapa sih?” Vi bahkan belum duduk.
“Duduk dulu.” Imam tertawa. Terlihat jelas menyukai ekspresi Vi yang kebingunan.
“Lamaran diterima?” Vi bertanya tentang lamaran yang Imam ajukan disalah satu perusahaan percetakan Jakarta. Dia tahu, meski mereka masih berada di semester empat. Mereka berjanji akan mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda.
Imam menggeleng. Jelas sekali bukan soal pekerjaan ataupun projek BEM. Dia sama sekali tidak ingin membahas itu. Kali ini dia ingin sedikit egois dengan hanya berbicara tentang perasaannya. Perasaan yang meluap-luap kepada gadis didepannya. Dia bukanlah pria yang suka menyembunyikan perasaannya. Meskipun perasaan itu tumbuh ketika masih SMP. Tapi sejak berpisah di SMA, Imam bukan orang yang hanya menyimpan satu cinta. Dia justru menganggap bahwa perasaannya pada Vi hanyalah cinta monyet. Lusa lupa. Kembali jatuh cinta beberapa tahun kemudian. Sudah pernah berpacaran dengan dua orang gadis di SMA. Imam pikir. Dia tidak akan jatuh cinta lagi pada Vi.
Tapi dia salah besar ketika kali pertama akhirnya takdir bertemu dengan Vi tiba. Ia justru masih menyukai Vi yang apa adanya. Awalnya hanya perasaan tertarik. Suka dengan sikap supel Vi pada semua orang. Ia salah besar tentang perasaannya. Ia kira ia baik-baik saja. Tapi perasaan itu jauh tumbuh lebih besar. Dan kali ini ia tak bisa menahannya.
“Oke, sebelum cerita. Pesen jus sirsak yuk.” Dia tersenyum. Memanggil pelayan tanpa persetujuan Imam.
“Vi, saya jatuh cinta.”
Vi terkejut. Ia menatap Imam. Tiba-tiba dia terasa lemas. Menatap Imam yang sedang tersenyum lebar kearahnya. Jangan-jangan…
“Saya jatuh cinta. Sudah lama saya ingin bercerita tentang ini.”
Vi diam. Entah kenapa tiba-tiba hatinya tak enak.
“Vi..”
“Sebentar,” Vi memotong kata-kata Imam. “Ponsel saya bergetar. Ada panggilan masuk. Boleh saya angkat?”
Imam ragu. Hei, kata-katanya belum selesai. Tapi, menatap wajah Vi. Rasanya dia harus menahannya sedikit lagi. Sebentar saja. Kata Vi dibalik tatapannya. Imam mengangguk. Baiklah.
Vi menjauhkan diri. Ia berjalan ke pintu keluar sebelah kiri kafe. Yang mengarah pada sebuah rumah sakit. Mengatakan kata ‘Halo’ ketika tepat ponsel itu berada ditelinganya. Imam menghela napas berat. Ia perlu merenggangkan tubuhnya setelah tadi sempat menahan napas. Mengatakan perasaan begitu membuatnya tegang.
Tujuh menit berlalu. Kemudian Vi sudah masuk. Dia tidak tersenyum. Dia cemberut. Seperti kecewa. Ada apa dengan Vi? Batin Imam bertanya.
“Kenapa?”
Vi kembali duduk. Sudah ada dua jus sirsak diatas mejanya. Pesanannya datang tepat empat menit ia pergi.
Vi tertunduk. Ia seperti sangat sedih. Membuat Imam khawatir.
“Kenapa Vi?”
Vi diam.
“Vi?”
“Tadaaaaa!!!” Vi mengejutkan Imam. Dia tertawa saat melihat ekspresi terkejut ditambah ekspresi bingung  milik Imam. Dia bercanda.
“Kejutan Mam.” Katanya tanpa merasa bersalah.
“Kejutan?” Imam menyesal mengindahkan ekspresi Vi. Kadang, saat-saat sedang jahil. Vi memang suka bersikap membingungkan dan membuat Imam kesal. Vi masih tertawa. Membuat pengunjung kafe menatap bingung kearahnya.
“Emangnya telpon dari siapa sih?” Imam bertanya kesal. Vi justru tidak memedulikannya.
“Dari Prima.”
Seketika saja, wajah Imam padam.
“Tadi dia telpon. Katanya, buku yang saya tulis keren banget. Dia baru membelinya di toko buku. Dia pembeli pertama.” Vi tersenyum lebar. Sesekali masih tertawa melihat ekspresi Imam.
“Kamu tahu kan buku Fly? Buku kuduaku? Baru saja diterbitkan dua hari lalu. Dan kata Prima. Ini adalah hari pertama Fly dikeluarkan dari gudang setelah kemarin dikirim penerbit ke toko itu.”
Vi menyeruput jus sirsaknya. Tidak ngeh dengan ekspresi kecewa yang terukir diwajah Imam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Apakah dia harus teriak marah atau diam memang lebih baik? Vi jelas-jelas tidak tahu perubahan itu.
“Jadi, kamu jatuh cinta dengan siapa?”

###

Dua bulan setelahnya.

Suasana ramai. Berbagai peralatan hajatan telah siap ditempat masing-masing. Kursi, tenda, pelayan dan para tamu bahkan sudah dandan dengan rapih. Berjalan sembari berbicara apa saja. Terdengar gelak tawa dari beberapa tamu yang datang menggunakan pakaian kebaya. Tata acara ini mengagumkan. Mengambil tema White Party di malam hari dan Red Party di siang hari membuat semua peralatan menjadi manis. Bunga-bunga sudah tertata. Harumnya semerbak.
Vi berada di ruang rias pengantin. Sedang di makeup oleh penata rias ternama. Tampak anggun dengan gaun putihnya. Makeupnya natural. Sangat pas dengan wajahnya yang manis.
Beberapa menit berlalu. Dia sebenarnya sudah siap satu jam lalu. Hanya memastikan tidak ada yang kurang pada riasannya. Hari istimewanya, tidak akan dihancurkan dengan satu kesalahapun. Pun hal kecil seperti salah menggunakan warna lipstick.
Pintu diketuk. Vi menoleh.
“Lima belas menit lagi Vi.” Itu Ibu Vi. Menyuruhnya sesegera mungkin turun. Tamu sudah menunggu. Begitu juga para kerabat dan mempelai pria; Prima.
Vi mengangguk. Ia bergegas. Penata rias pamit undur diri. Vi mengangguk mengucapkan banyak terimakasih. Sebelum Vi sampai diganggang pintu. Pintu itu sudah didorong masuk. Vi terkejut. Tapi melihat siapa yang datang. Bibirnya terangkat. Tersenyum.
“Saya ingin bicara Vi. Penting!” Imam. Dia terlihat sangat gugup. Dipelipisnya bercucuran keringat jatuh. Membuat Vi bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang mau dia katakan? Kenapa terlihat seperti seorang yang membawa berita buruk. Ada gempa bumi? Vi menggeleng. Tidak mungkin!
“Ada apa Mam?”
“Saya hanya mengatakan ini sekali. Tidak akan saya ulangi. Jadi, kumohon dengarkanlah.”
“Tapi saya sudah ditunggu. Nggak ada waktu Mam.”
“Sebentar Vi. Saya janji.”
“Kamu bisa mengatakannya setelah acara selesai.”
“Tapi saya tidak bisa.”
Vi menggeleng. Dia menolak. Tidak mau membuat ratusan orang menunggu. Apalagi Prima.
“Lima menit.” Imam memohon.
“Tidak bisa. Saya harus sesegera mungkin Imam. Maafkan saya.”
“Tiga menit! Saya mohon!”
Vi menghela napas. Baiklah. “Tidak lebih.” Imam mengangguk mengerti.
Dia mengambil napas dalam-dalam. Ia tak mau tiba-tiba menjadi gagu. Meskipun tidak akan pernah ada kesempatan lagi. Dia tidak bisa berbohong.
“Saya cinta kamu.” Imam tidak basa-basi. Waktunya singkat.
“Saya tidak punya waktu untuk bercanda Mam.” Vi beranjak. Namun segera dicegah Imam. “Saya serius Vi. Disituasi genting seperti ini saya tidak mungkin berbohong.”
“Tapi itu percuma Imam.”
Imam terdiam.
“Saya akan menikah.” Vi akan beranjak lagi.
“Jika kamu mencintai saya. Kamu bisa membatalkannya sekarang.”
Vi melotot kearah Imam. Dia benar-benar gila.
“Tidak mungkin. Maaf saya harus segera turun!”
Imam tiba-tiba memeluk Vi. Mengunci langkah Vi.
“Lepaskan Imam! Atau saya akan teriak.”
Imam diam. Ia mulai menangis. Memohon.
Disituasi seperti ini. Vi hanya bisa menahan kesedihan dihati. Dia tahu apa yang dirasakan Imam jauh-jauh hari. Ketika itu, tepat ketika Imam ingin menyatakan perasaannya padanya. Ia sudah tahu. Ia tahu hari dimana Imam akan mengatakan perasaannya akan tiba. Dia tahu. Dan ia tak mau itu terjadi.
“Lepaskan Imam. Saya mohon!”
Vi tidak memberontak. Karena ia tahu, Imam bukan orang yang suka menghancurkan hal-hal penting. Ia tahu, di hati Imam paling dalam. Masih ada akal sehat.
“Dengarkan saya Imam.” Imam masih menangis dalam diam. Berharap begitu besar pada keadaan yang amat menyulitkan ini. “Saya mencintai Prima. Kakak kandungmu. Saya tidak mungkin melarikan diri dengan calon adik ipar saya. Itu sangat lucu Imam.” Ia menjelaskan. Tidak dengan nada tinggi.
Telpon ketika Imam ingin menyatakan cinta hanya akal-akalan Vi. Dia hanya ingin mencegah Imam menyatakan cinta. Dia ingin menyadarkan bahwa Vi hanya mencintai Prima. Kakak kandung Imam.
“Saya mohon lepaskan, Imam. Kamu akan belajar banyak.”
Imam masih terdiam. Tetesan air matanya berjatuhan. Dia harus merelakan (lagi). Dan saat pelukan Imam melemah. Vi mulai melepaskan pelukan itu.
“Kita sahabat. Akan begitu selamanya. Tidak berubah.” Vi membalikan tubuhnya. Lupa dengan lima belas menitnya. Lupa dengan tiga menit yang ia berikan pada Imam.
“Saya pernah mencintai kamu Imam. Tapi itu jauh tertinggal. Beberapa tahun lalu. Saya melepaskan. Itulah hal besar yang saya lakukan. Orang bijak bilang. Cinta sejati itu bukan hanya tentang kebersamaan. Cinta sejati justru berbicara tentang melepaskan dan merelakan.”
“Kita tidak berjodoh. Saya justru mencintai kakakmu, Prima. Maaf. Cinta saya kali ini hanya untuk Prima. Mengertilah.”
Imam menunduk.
Ia tahu akan seperti ini jadinya. Sejak kali pertama bertemu di depan gedung kampus dengan Vi. Ia sudah lebih dulu bersama Prima. Ia menatapnya sama seperti tatapan Imam pada Vi. Dia tahu, akhirnya ia harus melupakan.
“Mungkin perkataan saya serba menyulitkan bagimu. Saya menghargai persahabatan kita. Saya menyayangimu seperti menyayangi Prima. Tapi bukan lantas sama dengan perasaan cinta saya. Itu hal berbeda. Mengertilah. Waktu akan membantumu. Ini sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Saya tahu betul kamu orang yang kuat.”
Setidaknya Imam sudah bercerita. Ia cinta Vi.
Vi menghapus air mata Imam. Matanya juga berkaca. Ia berbalik. Kembali melangkah. Sudah lebih duapuluh menit. Dia terlambat. 
Kamis, 21 Mei 2015 - 0 komentar

Moses

MATANYA masih menatap saya. Sesekali dengan mimik wajah yang entah mengapa asing, saya merasa ada hawa tak mengenakan ketika jemarinya dengan cekatan mematik korek api untuk membakar ujung batang rokoknya.

                Dilihat dari badannya yang kurus kering, kantung matanya yang menghitam serupa dengan bibir yang saya ingat terakhir kali masih ranum. Ia nampak tak kukenali lagi. Sepintas, saya seperti sedang berbicara pada laki-laki berusia empat puluhan. Padahal yang saya tahu, dua hari yang lalu usianya baru genap dua puluh tujuh tahun. Satu tahun lebih tua daripada saya.

                Saya tahu keterkejutannya melihat saya tak bisa dianggap tak beralasan. Namun seharusnya dia tahu bahwa saya benar-benar tidak pernah melangar janji; pun sumpah yang saya ucapkan.

                “Untuk apa kamu kemari?” tanyanya dengan penuh kebencian.

                “Untuk menepati janji.”

                “Janji yang mana?” suara paraunya bebarengan dengan batuk yang ditimbulkan asap rokok yang dihisapnya kuat-kuat. Rasa-rasanya, pertanyaan itu seolah menuduh bahwa banyak janji yang telah saya buat dan banyak pula janji yang telah saya langgar. Saya masih menatapnya prihatin—antara bingung dengan kecewa. Seharusnya tidak seperti ini kejadianya.

                “Setahu saya, kamu tak pernah serius menghisap benda mematikan itu, Moses.” Dia tertawa sinis. Lalu ia letakkan batang rokok itu. Mematahkannya di asbak kayu yang tergeletak di atas meja.

                “Tahu apa kamu tentang saya.”

                “Saya tahu semuanya.”

                “Omong kosong!”

                Kini, saya yang tengah duduk dihadapannya sedang mati-matian memendam takut. Moses benar-benar telah berubah menjadi pribadi yang tak saya kenali. Rasanya saya seperti sedang menemui makhluk dari planet asing.

          “Saya kemari sekaligus minta maaf.”

          Dia tidak merespon. Diam.

          “Saya memahami kekecewaanmu.” Entah mengapa mata saya terasa panas memerhatikan wajah gelisah di depan saya. Kini rambutnya panjang. Dikucir dengan karet gelang bekas nasi bungkus. Kamarnya yang sempit sedikit terasa melegakan. Biasanya, berbagai lukisan dan kuas serta cat minyak berserakan. Kini yang tersisa hanyalah lukisan bunga mawar putih; yang enam tahun lalu saya tahu telah ditawar dengan harga tiga ratus juta. Namun Moses menolak. Dia bilang, lukisan itu tak akan pernah ia berikan pada siapapun. Pun dijual dengan harga selangit. Itu lukisan pertamanya. Saya, sungguh tahu benar maksud dibaliknya.

          “Jika kamu marah. Marahlah. Saya tidak akan membalas apapun." Kataku.

          Korden dekat dengan Moses itu seolah ingin menyadarkan Moses dari lamunannya. Beterbangan menyentuh kulit Moses yang hanya dibalut kaos tipis dengan bekas noda cat minyak disana-sini. Moses masih suka melukis. Lalu, dimana ia letakkan semua lukisannya?

          “Dimana lukisan-lukisanmu Moses?” tanya saya ketika saya mulai bosan karena hampir tigapuluh enam menit pernyataan saya tak direspon.

          Dia masih diam. Kembali mematik api keujung batang rokoknya yang baru. Menghisapnya. Menyemburkan asapnya kesembarang arah. Seolah saya tidak ada.

          Saya masih ingin menata hati saya. Saya tahu, hati Moses jauh lebih berantakan daripada hati saya saat ini. Pun sofa yang robek-robek yang tengah saya duduki saat ini. Biarpun saya masih tak tahu harus bagaimana supaya Moses mau mendengarkan ucapan saya. Setidaknya dia harus tahu bahwa saya datang bukan untuk menggali lubang kekecewaannya lebih dalam. Dia harus tahu, saya datang justru untuk membantu menutupinya. Meski dengan sisa-sisa tenagaku yang lemah.

            “Bicaralah apa saja Moses.” Dada saya mulai sesak. “Apa saja asal saya tidak merasa berbicara dengan manusia patung yang bernapas.”

            “Saya hanya ingin kamu pergi.”

            “Saya kemari karena sesuatu.”

            “Tidak ada.”

            “Ada.”

            “Apa?”

            “Kenangan.”

            Matanya kembali menatap saya yang mulai bicara ngawur. Entah apa yang sedang saya bicarakan. Sejujurnya saya tidak benar-benar tahu. Pun dengan kata kenangan. Pantaskah, saya yang meninggalkannya menyebut ‘Kembali’ dengan alasan kenangan?

            “Kenangan macam apa yang kamu sebut-sebut Resa?”

            “Saya tidak tahu. Tapi saya hanya ingin kembali untuk kenangan. Meskipun kenangan dalam ingatanmu adalah hal buruk yang pahit. Saya masih berharap ada sedikit kenangan yang masih bisa saya dengar. Atau bisa saya perbaiki.”

            Dia tertawa sinis lagi. Menertawakan ucapan saya.

            “Jangan berfilosofi di depanku Resa. Saya muak dengan dramamu.”

            Angin semakin kencang diluar sana. Kulihat, gerimis mulai datang.

            “Saya minta maaf.”

            “Tidak perlu. Saya sudah melupakan semuanya.”

            Air mata saya seolah tak sabaran untuk jatuh. Begitu berkedip, rasanya semua sesakku keluar. Dada saya semakin sakit.

            “Saya tahu itu bohong.”

            “Saya tidak sepertimu!!”

            “Saya tahu.” Kataku lemah. “Saya hanya ingin menjadi waras.”

            “Sejak dahulu kamu memang tidak waras.”

            Seolah tak mau menghentikan perdebatan ini. Moses menatap tajam kearah saya. Sedang menunggu perkataan saya. Lalu akan menjawabnya dengan nada tajam.

            “Saya tidak waras karena kamu Moses.”

            Ia menatapku tak percaya. Sedetik, melihat tatapan Moses seperti itu mengingatkanku saat kali pertama kami berjumpa. Delapan tahu yang lalu. Ketika kami masih sama-sama memakai pakaian putih hitam. Berdandan semacam badut. Rambut saya dikucir tiga. Serta berkalungkan papan kardus dengan tulisan bunga kesukaan saya; mawar putih.

Saat itu, topi kertas miliknya jatuh, dan saya tidak sengaja menginjaknya. Dia menatap saya marah.

            “Semenjak kali pertama kita berjumpa. Saya memang merasa menjadi seorang yang tidak waras.”

            Moses diam. Saya tahu, dalam diamnya sekelabat cerita ‘masa lalu’ yang tak sengaja saya buka kembali membuat memorinya memutar peristiwa-peristiwa itu. Dan saya masih berharap, kenangan pahit itu tidak ikut serta.

            “Saya bahkan pernah mendatangi pskiater untuk menanyakan masalah saya ini. Dua minggu lalu. Itupun dibarengi perdebatan sengit dengan batin saya selama lebih tujuh tahun.”

            Moses tidak bergeming. Kini matanya berkeliaran tanda hatinya sudah tak sangup menatap saya. Air mata disudut matanya yang cokelat. Menunjukan betapa sakit hatinya.

            “Harap kamu tahu Moses. Saya hancur saat meninggalkanmu..” tangisku pecah lagi. “Saat ini saya sedang tidak membela diri saya atas kesalahan yang saya buat. Saya hanya ingin menepati janji saya. Meskipun bagi kamu, saya sudah tidak berarti lagi. Begitu juga dengan kedatangan saya yang terlambat dua hari. Saya minta maaf.”

            Beberapa detik sunyi. Dia masih tidak mengatakan apapun.

            “Selamat ulang tahun Moses.” Kata saya menahan sesak. Kuseka air mata saya yang berjatuhan.

            “Maaf sudah lancang.” Saya tidak tahan. Masih menatap prihatin terhadap Moses. Entah kenapa saya ingin meluapkan segalanya pada dia. Dia harus tahu kondisi saya juga sama kacaunya dengan dia. “Saya merutuki diri saya sendiri selama dua tahun belakangan. Saya ingin menyalahkan takdir. Namun saya tidak berhak.”

            Dia menangis lagi. Air matanya tumpah bersama matanya yang terus memandang jendela kaca yang telah basah oleh cucuran air hujan.

            “Maaf.” Air mataku dan air mata Moses seolah membanjiri ruangan yang pada dua tahun perkenalan kami selalu kami jadikan tempat berbagi cerita. Saya dan Moses. Ingatan itu seolah memukul saya. Sekaligus menjadi alasan saya menepati janji.


            “Pergilah Resa. Temui laki-laki yang orangtuamu inginkan.”
            “Kamu tak pernah peduli dengan keinginan saya?”

            “….”

            “Baik. Saya pergi…” saya mengusap pipi saya. Pipi yang saya ingat selalu disentuh jemari Moses yang hangat. Menghapus pilu didada saya.

            “Saya hanya ingin mengatakan….”

            “Saya sudah mendengar pengakuanmu. Begitu juga permohonan maafmu. Saya terima. Saya memaafkanmu. Pergilah sebelum saya berubah pikiran.”

            ‘saya mencintai kamu’ kata saya melanjutkan perkataan yang dipotongnya. Dalam hati. Biarlah. Ini hanya masalah memiliki dan tidak memiliki. Yang pasti, saya masih cinta Moses.
Selasa, 20 Januari 2015 - 0 komentar

Menunggumu

"Si Nana ngapain?" tanya Dita kepada Sari yang sedang sibuk bersama kertas tugasnya yang berserakan. Sembari mengambil keripik singkong di toples, ia berkata. "Nggak tahu tuh, palingan juga ngecenging Presiden."
"Hah? Presiden?" 
Sari langsung tersadar, "Duh, maksudku Presiden BEM lho." 
Dita manggut-manggut. Mulutnya sampai membentuk huruf o. "Tapi kayak mau jalan ke warung tenda deket kos Cendana." katanya sambil berjalan keluar. Ia amat memantau teman akrabnya yang dua minggu terakhir entah kenapa mulai aneh tingkahnya.
Sari mengedikkan bahu. Mulutnya sudah penuh dengan keripik singkong. "Ah, kayak nggak tahu Nana aja. Dia mah apapun dilakuin demi ketemu sang pujaan."
Dita manggut-manggut. Pikirannya ber-Oh lagi. Ini dia alasannya. Nana lagi jatuh cinta!

Setelah lebih satu jam menunggu, akhirnya Nana muncul di mulut pintu kosan. Membawa bungkus plastik berwarna hitam. Mata Sari langsung senang. Dirampasnya kantong plastik itu;berharap besar isinya makanan. Perutnya masih lapar. Maklum seharian cuma di isi dengan jajanan dan cemilan ringan.
"Gorengan doang apa nasi kucing Na?" tanya Sari antusias, sampai tidak menghiraukan wajah temannya yang manyun karena bungkusan plastik yang dibawanya direbut begitu saja.
"Yaelah, Ri. Baru nyampe. Belum duduk."
Sari tertawa. Tidak menghiraukan. Dibukanya dengan cepat bungkusan plastik itu.
"Habis ngapain,Na?" tanya Dita tanpa basa-basi. Rasa penasarannya tak tertahankan. Nana tersenyum malu, lalu duduk di atas kursi. Tidak menghiraukan teriakan Sari karena tubuhnya menginjak bahan-bahan kuliahnya; tugas yang sedari tadi ia kerjakan dengan susah payah. Dita menyimak Nana yang ekspresinya aneh.
"He.." Dita mencubit Nana. Tidak sabar. "Cerita, jangan senyum-senyum doang."
Nana nyengir. Senang hatinya. Apalagi, melihat wajah penasaran Dita, membuat pikirannya melayang-layang.
"Minggir dulu kek." Sari bertindak cepat. Membereskan kertas-kertasnya. Dan Nana tetap tidak menghiraukan.
"Tadi Presiden nggak dateng si.." katanya mulai percakapan. Mata Sari dan Dita beradu. Bingung.
"Tapi, aku ketemu salah satu anggota BEM Fakultas Hukum. Namanya Abi. Orangnya cakep. Pakai behel. Terus kacamataan gitu..."
Sari yang tidak menyimak betul, hanya sibuk dengan bungkusan yang dibawa Nana terdiam. Terkejut. Bukannya Nana nungguin Presiden BEM ya? kok malah ngomongin Abi?
"Kita kenalan" kata Nana melanjutkan.
"Kok bisa?" Dita makin penasaran.
Nana tersenyum. Makin lebar. Menganggukan kepalanya keras-keras. "Nggak sengaja sih. Gara-gara nasi kucing."
"Nasi kucing?" Sari dan Dita serempak.
Nana mengangguk lagi.
"Nasi kucing yang aku pesen itu adalah yang terakhir. Terus karena si Abi kepengen banget jadiaku kasiin. Terus dia kayak berterimakasih banget sama aku. Kita jadi ngobrol banyak hal."
Mata Sari menyipit, "Tentang Presiden BEM?" 
Nana tersenyum lagi. Kali ini matanya berbinar. "Nah itu dia."
"Maksudnya Na?"
"Aku nunggu dia, tapi Tuhan malah mempertemukan aku sama orang yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Bahkan pertemuan kami, entah kenapa sangat menyenangkan."
"Jangan mudah jatuh cinta Na." Dita memperingatkan.
Nana tersenyum, menggeleng.
"Tenang Dit. Aku emang gampang suka sama orang lain. Tapi, aku masih nunggu Presiden BEM kok."
"Hati-hati keblinger." Sari menimpali. Memakan gorengan sisa yang di beli Nana.
"Orang cakep emang menarik, menggiyurkan. Tapi nggak pernah bisa nggantiin posisi hati yang udah nancep banget. Kadang perempuan itu memilih sesuatu dari sesuatu yang dipilihnya pertama kali. Meskipun harus muter-muter dulu."
"Sok berteori." Sari melempar bantal. Dita pun tak kalah, ia mencubit Nana.
Kamis, 27 November 2014 - 0 komentar

Sebuah Pesan dari Kotak Kardus


ADA sebuah kotak; kardus berwarna cokelat yang terletak di bawah jendela kamarku. Permukaannya sedikit kotor—mungkin akibat gerimis tadi malam. Air yang berbenturan dengan tanah berdebu bercampur, mencipratinya. Aku yakin bahwa kardus itu sudah berada disana semalaman. Terakhir aku membuka jendela kamarku kemarin; pagi hari—ketika aku ingin menghirup udara segar setelah bangun dan aku yakin bahwa tidak ada satu karduspun yang tergeletak disana. Mungkin tadi sore atau malam hari diletakannya. Aku tak tahu, yang pasti aku penasaran dengan isi kotak itu.
            Aku mengambilnya. Lalu kubawa kotak kardus itu ke dalam rumah dan kubuka. Betapa terkejutnya aku ketika membukanya. Isinya hanyalah sepotong kertas lusuh, berwarna buram. Itupun tak disertai petunjuk orang yang mengirim. Dalam hati aku bertanya-tanya, siapa orang yang tidak punya kerjaan sehingga mengirimiku kertas lusuh dengan robekan di sisi-sinya ini?
Entahlah!!
            Seminggu berlalu, kemudian aku menemukan hal yang sama. Sebuah kardus tergeletak dibawah jendela kamarku. Tepat setelah semalaman hujan. Kali ini bukan gerimis. Yang aku tahu, semalam hujan cukup deras. Dan seperti biasa, kardus itu—kotak berwarna cokelat itu penuh dengan kotoran debu yang bercampur air. Anehnya, kardus itu tak pernah benar-benar basah. Kau tahu isinya? Tentu. Benar sekali. Sebuah kertas robekan. Sepotong. Hanya sepotong.
            Aku menghela napas. Agak kesal. Kenapa pula harus mengirim kertas ini? Kurasa orang yang mengirimnya benar-benar tak punya pekerjaan.

###

            Beberapa minggu ini, hujan tak turun. Seperti dugaanku. Kardus itu tidak ada, tidak muncul di bawah jendela kamaku. Lalu aku menunggu dan bertanya. Pengirim kotak kardus itu berhasil membuatku bertanya. Lalu aku berdoa—berharap bahwa Tuhan mengirimi hujan diwaktu dekat. Supaya aku bisa mengerti maksud si pengirim kotak kardus berwarna cokelat itu. Dan doaku terjawab tiga hari selanjutnya. Semalaman hujan dengan deras. Disertai petir yang menyambar. Aku menunggu ia—si pengirim kotak kardus. Berharap bisa bertemu. Atau setidaknya mengetahui sosoknya yang misterius.
            Semalaman—sepanjang hujan aku tunggui ia di depan jendela kamar. Meski sebenarnya aku amat takut dengan petir. Aku tak menutup jendela kamarku. Tak mengapa angin dan air hujan masuk, tak mengapa air itu membasahi tubuhku yang berdiri menungguinya. Rasa penasaranku sudah di ubun-ubun. Tak bisa aku hidup dengan penuh tanda tanya seperti ini. Awalnya kupikir ini hanyalah hal kecil—orang iseng yang tak sengaja membuang sebuah kardus dibawah jendela kamarku. Tapi, menemui kardus kedua, tak mungkin tak kesengajaan itu. Aku yakin, si pengirim ingin aku mengetahuinya secara sengaja.
            Namun, hingga pukul sebelas malam. Ketika hujan sudah reda. Dan kantukku datang, ia tak datang bersama kotak kardus itu. Aku ingin menyerah. Tapi di pikiranku, aku masih ingin menungguinya. Tak sengaja, tiba-tiba petir kembali menyerang. Membuatku reflek menutup jendela kamarku. Menutup kordennya, kemudian dengan cepat melompat ke atas kasur.
            Esok hari ketika kubuka jendela kamarku, aku sudah menemui kotak kardus itu. Terdiri dari dua kardus kecil. Masing-masing dalam keadaan sama seperti dua kardus sebelumnya. Dengan segera aku ambil dan kubuka. Isinya sama-sama kertas lusuh berwarna buram. Dan setelah kuteliti dengan seksama, ada satu huruf disetiap potongan kertas robek itu. Ejaannya aku rakit bersama kertas sebelumnya. Sesuai dengan urutan pemberian kardus itu, aku memperoleh satu kata; MAAF.
            Aku menghela napas. Kerutan dahiku bertambah. Aku benar-benar tak mengerti. Tapi kau tahu? Di sela-sela kotak kardus itu aku menemukan sebuah surat. Dengan segenap perasaan penasaran dan takut yang berpautan aku membacanya.

MAAF.
Kau mungkin bertanya-tanya tentang maksud dari ke empat kardus yang aku kirim untukmu. Kau mungkin menerka—mengira-ngira maksudku.
Jangan khawatir Kanaya, aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan. Meskipun ketika aku memberinya, aku sedikit memberimu sebuah teka-teki. Kupikir kau akan mengerti dengan cepat. Ternyata tidak. Tak apa Kanaya. Aku mengerti, selalu mengerti.
Kau sudah mengerti arti dari keempat kardus itu, kau pandai merangkai huruf Kanaya.
Kau tahu kenapa aku mengirimnya empat kardus? Saat hujan tiba dan pada malam hari?
Selain kata maaf, empat menunjukan waktu yang kulalui bersama perasaanku Kanaya. Kau tahu, sudah empat tahun aku mencintaimu. Maaf aku baru berani mengatakannya. Aku menyimpan perasaan ini. Tak berani aku mengatakannya. Dulu, aku terlalu bodoh. Dan sekarang tinggalah aku bersamaan dengan penyesalanku. Aku laki-laki, aku hanya tak ingin mencintaimu tanpa memiliki sesuatu yang bisa membanggakanmu. Tapi aku salah, menunggu sejatinya tak akan pernah usai. Menunggu bukan sikap kesatriya. Kata membanggakan itu seharusnya terjadi ketika aku berani mencintaimu secara terang-terangan. Bukan diam dengan kesunyian—sendiri, seperti arti kata malam ketika aku mengirimimu kotak kardus itu.
Kanaya, tahukah kau bahwa hidupku seperti di derai hujan? Ramai, tapi terasa dingin. Tak ada kehangatan kecuali dengan bantuan selimut. Selimut itu adalah kekuatan cintaku Kanaya. Perasaanku, entah kenapa membuatku seperti seorang bodoh dan dungu. Laki-laki yang memendam perasaannya pada seorang perempuan. Tapi tak sanggup mengungkapkannya.
Sejatinya, aku hanya ingin kau berpikir Kanaya, bahwa ada orang yang mencintaimu dalam diam. Bahwa ada yang mencintaimu ketika kau merasa tak seorangpun menyayangimu. Kanaya, meskipun tak dikatakan, perasaanku padamu tetaplah cinta.
MAAF, aku baru berani mengatakannya, meskipun sejatinya aku terlambat. Kau sudah dengan dia. Berbahagialah, aku tetap mencintaimu. Hatiku untukmu. Aku menjaganya seperti aku menjaga kertas lusuhku didalam kardus dari hujan. Kertas lusuh dan buram itu adalah serpihan hatiku—yang robek disisi-sisinya. Meski kotaknya sedikit kotor dan basah. Aku sudah berusaha menjaganya. Untukmu yang hatinya untuk dia.Kanaya...
-Sosok misterius ini sesungguhnya tidak penting,
Karena yang terpenting adalah hatiku. suatu saat kau akan tahu-
Minggu, 01 Juni 2014 - 0 komentar

Seperti Perahu

Seperti perahu
Hidup kita seperti perahu
Terombang-ambing ditengah lautan
Sekuat tenaga menyeimbangi air


Seperti perahu
Kisah kita seperti perahu
Terus mendayung agar terus berjalan
Melalui berbagai gelombang dan arus

Maka seperti inilah kita
Kau diujung sana dan aku diujung lainnya
Membawa air mata dan bahagia
Seperti inilah hidup kita

Diatas perahu yang berjalan entah kemana