Selasa, 28 Juni 2016 - , 0 komentar

Menanti dalam Taat

Diposting juga di wattpad



"Kupantaskan diri, kugantung harapanku di malam-malam penuh doa. Aku tak pernah ragu, karena Allah selalu tahu. Kita jauh, namun dekat dalam doa."
---


"YA AMPUUUN, Drea! Kamu ngapain sih?" tanya Mbak Rana ketika menemuiku tengah kesakitan akibat terpeleset. Tadinya ekspresi Mbak Rana terlihat kasihan melihatku, namun dua detik kemudian ia malah cekikikan menertawaiku. Menyebalkan!
Mengerucutkan bibir, ku usap-usap punggungku. Gara-gara lompat-lompat aku jadi seperti ini. Mbak Rana muncul tiba-tiba sih.
"Mbak nggak ada niat buat bantuin Drea?" kataku ketika Mbak Rana malah diam menertawai posisiku yang terduduk dengan punggung kesakitan di lantai. 
Mbak Rana yang nyaris tertawa kencang itu akhirnya menghampiriku. Mengulurkan tangannya sembari berkata, "kamu sih, ngapain siang bolong gini lompat-lompat nggak jelas? Kamu masih waras kan, Re?"
Mendengar candaan Mbak Rana yang semakin tak manusiawi membuatku bertambah kesal. Bibirku mengerucut, sementara hatiku bertambah kesal. Mbak Rana itu kalau udah jahil ngeselinnya kebangetan!
"Ih, Mbak Rana ya." Menghentakkan kaki, kujauhi Mbak Rana dan duduk di sofa kamarku dengan hati yang bertambah kesal.
Iya, kenalin nih ya... namanya Rana Ayunda, kakak ipar yang sudah kuanggap sebagai pengganti almarhumah Ummi. Meski jahil, tapi dia adalah pemberi solusi terbaik saat aku butuh manusia untuk berbagi cerita dan meminta saran.
Sejak Ummi meninggal, aku diberi dua pilihan oleh Abi, aku harus sekolah di pesantren atau rela dibina dalam naungan abangku yang juga nyebelin, Bang Reza. Kemudian, pilihanku jatuh kepada opsi kedua. Meski ngeselin dan suka kontra dengan aku, aku masih sayang abangku. Setidaknya, Bang Reza nggak sekolot Abi.
Sayangnya setelah dua tahun di sini, Abi wafat. Jadilah aku dan abang yatim piatu.
Saat itulah, aku bersyukur masih diberi keluarga seperti Mbak Rana dan Bang Reza. Mereka yang membimbingku dalam segala hal, termasuk dalam beragama. Alhamdulillah, Bang Reza guru agama yang paling baik untukku.
"Re... kamu belum jawab pertanyaan Mbak lho!" Seketika lamunanku buyar. Mbak Rana mencubit pipiku hingga kemerahan. Mengaduh, kuusap-usap pipiku yang menjadi korban kejahilan Mbak Rana.
Mbak Rana tersenyum, mengejek. "Kamu ditanya malah ngelamun. Ada apa sih? Ada masalah?" tanyanya.
Sebenarnya... iya! Aku sedang ada masalah. Lebih tepatnya batinku yang bermasalah. Pikiranku dipenuhi seseorang yang akhir-akhir ini berusaha kulupakan. Sampai-sampai aku berharap dengan melompat-lompat setiap saat pikiranku tentang dia akan lebur, berjatuhan ke tanah atau hilang bersama udara yang tengah kuhirup. Namun cara itu tidak berhasil. Yang ada aku malah terpeleset.
Mungkin ini bukan masalah besar, namun ketika aku tahu bahwa aku harus menjaga hatiku sampai waktu yang tepat, aku tahu aku sedang menghadapi masalah yang lebih besar dari yang kukira.
"Cerita aja kayak biasa, Re," kata Mbak Rana.
Ragu, aku terdiam sejenak. Apa yang akan dikatakan Mbak Rana ketika adik gadisnya ini ternyata terjangkit masalah yang besar dan belum bisa mengtasinya hingga sekarang?
"Hmm... Mbak Rana, boleh nggak sih seorang muslimah itu jatuh cinta?"
Seketika Mbak Rana mengernyitkan kening. Beberapa detik ia sempat terdiam membuatku berpikir bahwa ia akan marah. Jangan-jangan dia berpikir aku tidak bisa menjaga hati dan suka jelalatan nggak jaga pandangan?
"Drea nggak jelalatan kok. Drea masih inget apa kata Mbak Rana tentang menundukkan pandangan saat bicara sama lawan jenis. Drea juga masih ingat kalau Drea ini muslimah, Drea...."
"Kamu kena virus merah jambu ya, Re?" potong Mbak Rana sambil tersenyum.
***
Jadi... namanya Adam. Seorang ikhwan yang pertama kalinya membuatku berpikir tentang satu kalimat yang dia ucapkan dalam pidato singkat saat ia diminta untuk menyambut kader LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang baru.
"Menjadi bagian yang terasingkan itu suatu keberuntungan."
Sebenarnya, bukan itu satu-satunya alasan mengapa aku selalu memikirkannya. Demi Allah, aku tak pernah menaruh perasaan lebih kepadanya pada awal perjumpaan kami. Bahkan dalam dua sampai tiga pertemuan berikutnya.
Anehnya, aku memikirkannya ketika aku mengkaji beberapa perkataannya dalam pidato singkatnya. Terutama kalimatnya yang satu itu. Aku berpikir, apa enaknya menjadi yang terasingkan? Bukannya terasingkan itu menjadi yang tersisih dan tidak dianggap? Kemudian, beberapa kali aku mencari jawabannya, ternyata aku membenarkan apa yang pernah dia katakan. Bukankah itu adalah bagian dari sabda Rasulullah?
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, "Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing." 
Aku tersenyum, saat itu aku mulai berpikir... masyaallah, cerdas sekali ikhwan itu. Siapa ya namanya?
Singkat cerita setelah beberapa kali kucari nama dan data pribadinya, aku mulai mencari beberapa akun social medianya. Mulai mengikuti setiap postingannya. Tersenyum, semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya ketika kutahu ternyata ia pernah beberapa kali menjadi pemimpin dalam organisasi yang berlandaskan keislaman.
Mulai dari hal-hal kecil dan besar mengenai dirinya aku nyatakan bahwa aku jatuh hati. 
***
"Jadi, kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Mbak Rana begitu ku akhiri ceritaku dengan satu pertanyaan, bolehkah aku jatuh cinta pada seorang ikhwan yang jelas-jelas pintar dalam agama, yang kukagumi atas ketaatannya pada ilahi?
"Boleh," jawab Mbak Rana sembari tersenyum.
Awalnya kupikir Mbak Rana akan marah. Pasalnya, aku sudah merasa berdosa karena tidak menjaga hatiku dan telah gagal menjaga hijabku.
"Tapi aku merasa tidak menjaga hatiku, Mbak. Aku malu sama Allah. Mengaku muslimah yang mencoba taat tapi mudah jatuh hati hanya karena aku menganggap dia memesona karena terlihat taat sama Allah."
Mbak Rana tersenyum lagi, kemudian tangannya segera melingkar ke tubuhku. Ia memelukku. Saat itu, aku menangis entah untuk alasan mana.
"Dengar, Drea. Mbak tahu apa yang kamu rasakan. Kamu jatuh cinta. Itu tidak salah. Karena bertemu dengan seseorang yang membuat kita jatuh cinta adalah ketetapan Allah, qodo' ilahi. Tapi, memilih untuk menjaga hati, tidak membuat rasa cinta itu melebihi cintamu pada Rabb-mu, itu mukhayyar, pilihan."
Mbak Rana mengusap air mata di pipiku setelah pelukannya lepas. "Wajar kok ketika kita jatuh cinta dengan seseorang karena kepandaiannya, ketaatannya pada Allah. Daya tarik bagi muslimah karena kita menganggap kelak imam kita dalam keluarga akan seperti itu. Yang terpenting saat ini, jaga iffah kamu. Manejemen hati adalah kuncinya."
Aku tersenyum, tuh kan kalau cerita sama Mbak Rana terasa seperti dapat pencerahan.
"Kamu boleh lho Re mengharapkan ia jadi suamimu kelak. Hehehe."
Aku tersenyum. Rasanya jantungku ingin loncat.
"Caranya adalah dengan memantaskan diri."
Aku terdiam, apa maksudnya memantaskan diri?
"Memantaskan diri itu memperbaiki diri kita menjadi lebih baik. Ingat kan janji Allah dalam Qur'an? surat An-Nur ayat 26, bahwa Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Kalau kamu mau dia yang taat, kamu juga harus taat. Janji Allah itu pasti. Karena yang baik menurutmu belum tentu yang terbaik di mata Allah. Doa, rahasia ampuh untuk kegalauanmu."
Tersenyum, kupeluk Mbak Rana sambil berbisik terima kasih. "Jadi Drea harus menyimpannya dalam doa?" tanyaku. Mbak Rana mengangguk.
"Tapi Mbaaakkk...."
"Kenapa?"
"Kalau aku kepikiran terus sama dia gimana?"
Mbak Rana seketika tertawa dan aku kembali mengerucutkan bibirku. 
"Banyak-banyak istighfar, hati-hati setan diam-diam masuk merusak hati kamu. Ingat selalu sama janji Allah, kalau jodoh insyaallah pasti bertamu."
Kamis, 28 April 2016 - , , 0 komentar

Karena Menjadi Muslim Bukan Hanya Sebuah Label

Dua bulan atau tiga bulan terakhir, saya mengalami banyak perubahan. Kesibukan tugas kuliah, tugas mengemban amanah sebagai salah satu kader UKM Kampus juga sibuk “memperbaiki diri”.
Di antara kesibukan saya yang lumayan menyita waktu dan tenaga, ada satu hal yang hilang. Pun yang bertambah. Salah satu yang hilang, yaitu berkurangnya waktu saya untuk membaca karya sastra (novel) juga menulis (cerpen maupun novel) yang masih on progress. Entah kenapa setelah sesuatu “merasuki” saya, saya merasa ingin ‘menomorduakan’ hobi saya untuk menulis dan membaca novel.
Ya, sesuatu yang “merasuki” itu adalah sebuah anugerah yang saya idam-idamkan dari dahulu, yaitu “BERHIJRAH”.

Yang saya tahu, hijrah adalah suatu proses di mana kita berpindah dari sesuatu (atau suatu tempat) ke sesuatu hal yang lain. Atau boleh disebut sebagai perubahan seseorang ke arah yang lebih baik. Dalam konteks ini, saya mengalami ‘hijrah’ insha Allah ke arah yang lebih baik. Yaitu menjadi muslimah yang 'kurang’ taat pada ajaran agama-NYA ke muslimah yang insha Allah ingin mengubah dirinya agar lebih taat kepada Sang Pencipta–ALLAH ta'ala.

Kisah hijrah saya entah dimulai sejak kapan. Yang pasti hal ini saya lakukan secara bertahap.
Jika ada yang mengatakan bahwa hijrah saya dimulai ketika saya mengikuti UKM Rohis di kampus, mungkin saya akan mengiyakan. Namun jika ada yang mengatakan bahwa Rohis Kampuslah yang menjadi satu-satunya penyebab hijrah saya, saya akan mengatakan TIDAK.
Karena, sejujurnya niatan berhijrah sudah ada dalam diri saya sejak dahulu. Sejak saya melihat dan mengamati kehidupan lingkungan hidup saya; terutama keluarga.

Saya hidup dalam lingkungan keluarga yang tingkat pemahaman agamanya cukup baik, namun belum terlalu dalam. Dengan itu setidaknya saya punya bekal sedikit kenapa saya memutuskan untuk terjun secara dalam untuk agama saya. Pada intinya saya ingin berislam secara utuh.

Ini bukan berarti saya ingin mengubah keislaman saya yang biasa-biasa saja ke islam yang luar biasa. Tidak ada istilah islam biasa atau pun islam yang luar biasa. Yang ada hanyalah islam yang taat dan tidak taat.

Seperti yang difirmankan Allah pada Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Karena menjadi muslim bukan hanya label, bukan meyakini sesuatu sebab itu adalah budaya. Kita mengaku berislam bukan pula sebab orang tua kita Islam. Saatnya berpikir lebih dalam, lebih luas. Mengapa kita Islam, mengapa kita harus patuh pada Allah. Lalu untuk apa keyakinan kita.
Senin, 11 April 2016 - , 0 komentar

Berdua Saja

-kita di antara kata yang tak terucapkan. Mungkinkah kau tahu jawabnya?-

---


"KUE nastar bikinan kamu enak, Dre. Apa resep rahasianya?"

Ketika itu, kamu bertanya untuk kali pertama. 
Satu tanganmu terus bergerilya mencomot kue nastar dari kotak yang penutupnya kuberi pita merah. Matamu tersenyum ke arahku.

Malam itu, kue nastar rasa pisang yang kubuat kusajikan dengan secangkir teh hijau favoritmu.

"Kenapa harus pisang? Biasanya kan keju? Kamu bereksperimen terlalu lucu. Pasti karena pisang makanan favorit monyet ya? Makanya kamu suka."

Aku hanya tersenyum. Mendapati dirimu yang suka menebak sembarangan. Apa hubungannya monyet dengan aku? Dia pikir aku mirip monyet?

"Kamu terlalu sensitif, Dre," katanya.

Ia menyingkap rambut agak panjangnya, kemudian kembali memakan kue nastar. "Dulu siapa yang bilang kalau monyet itu lucu?"

Aku mengangguk. Tersenyum. Dia... stalker hebat. Pasti dia sering mengikuti perbaruan postinganku di twitter.

***

Teras rumah, angin malam pertengahan bulan, aku dan kamu;berdua saja. Ditemani dua cangkir teh hijau kental dan satu kotak kue nastar rasa pisang. Sederhana, begitulah pertemuan kami. Dia sering menyebutnya sebagai amunisi cerita karena di dalamnya terdapat ledakan-ledakan yang tersembunyi, tak terucap dengan sebuah cerita saja.

***

Malam ini, aku menunggu di teras rumah. Sudah menyiapkan secangkir teh hijau kental dan dua kotak kue nastar.

Dia sangat menggemari kue nastar rasa pisang buatanku, oleh karenanya aku suka menyediakan banyak untuknya. Aku tidak ingin dia menghisap jari-jarinya ketika potongan kue nastar terakhirnya telah tertelan menuju ke perutnya.

Satu cangkir, kupikir cukup. Karena aku sudah merasa hangat ketika berada dekat dengannya. Menikmati angin malam yang dingin bersama ledakan-ledakan yang tak terdefinisikan. Sebenarnya ledakan apa? Aku bertanya.

Setengah jam berlalu, angin berembus makin kencang. Kurapikan khimar yang melekat di kepalaku. Aku tersenyum ketika dia datang dengan wajah serius.

"Aku serius denganmu, Drea." Dia berkata. Aku tersenyum. Kutahu, sejak awal dia datang kepadaku, ia sudah mengatakan bahwa ia ingin serius kepadaku. Maka dengan senang hati, kubalas keseriusannya dengan ketulusanku. Kubuat kue nastar rasa pisang hanya untuknya. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencicipi kue nastar rasa pisang buatanku, kecuali orang rumah. Itulah salah satu bukti penebusan keseriusannya kepadaku.

Aku mengangguk kecil. Lalu apa? Aku melihat ada perkataan yang ingin ia sampaikan, hanya saja serasa tersangkut di tenggorokan.

Menunduk, melihat ke arah ubin teras rumahku, aku mencoba menetralisir ledakan spekulasi yang berdesakan di otaku. Ada yang berbeda. Atmosfir malam ini terasa lebih pekat. Kupikir ini hanya perasaanku saja.

"Sejak awal kamu tahu kan, bahwa aku datang kepadamu untuk menjadikanmu pendamping hidupku? Seorang yang kelak akan menjadi ibu untuk anak-anakku?" Ia akhirnya menghela napas.

Aku menelan ludah. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Ketika aku menolak untuk diajak menonton film di bioskop berdua saja?

Ah, apa yang sebenarnya akan terjadi?

"Kamu takut kepada Allah, Dre?"

Aku mengangguk. Tentu saja, itu tak diragukan lagi. Belajar takut kepada Allah telah kurasakan sejak dahulu. Namun sayangnya, baru kulakukan dan kuterapkan akhir-akhir ini. Ketika beberapa kali aku mendengar seruan seseorang tentang batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Aku menolak pergi berdua dengan seseorang yang bukan mahramku hanya untuk tujuan hiburan. Ini bukan penolakanku karena tak mempercayainya, justru karena aku percaya dia orang baik, maka aku ingin menjaga kehormatannya.

Apa jadinya, seorang yang bersekolah di perguruan tinggi Agama, terlihat berdua keluar rumah untuk menikmati hiburan?

Setidaknya, itulah yang menjadi rujukanku.

Aku kembali mengembuskan napas. Sunyi.

Tunggu? Apakah dia...

"Aku ingin mengakhiri ini semua, Drea," katanya. "Kamu benar. Tak sepantasnya seseorang yang mengaku takut dengan aturan Tuhannya, tapi masih melakukan perbuatan yang dilarang. Termasuk pertemuan haram kita. Kita hanya berdua. Meski kita hanya diam, hanya mengobrol sembari menikmati secangkir teh hijau dan kue nastar, itu termasuk ke dalam hal yang dilarang. Bukankah, berkhalwat dengan non muhrim itu haram. Maafkan aku, Drea. Aku baru menyadarinya."

Ada rasa sakit dan rasa sedih mendalam ketika dia mengatakan itu. Meski di hatiku yang lain membenarkan perkataannya.

"Aku mencintaimu. Itu sudah pasti. Maka demi apa yang menjadi keinginan kita, aku harus menjauhimu." Ia mengusap wajahnya. Rasanya aku seperti melihat ketidakrelaan dia. Namun aku harus mengakui, bahwa dia telah belajar dengan baik.

Maafkan aku yang telah membuat pemahamanmu menjadi rancu. Aku... turut andil dalam semua kekafiran ini.

"Aku harus memperbaiki semua. Ketika persiapanku telah mantap. Aku ingin bertemu denganmu di pelaminan. Tentu aku dan kamu, berdua dalam amunisi cerita atas landasan yang diridhai Allah. Semoga kamu memahamiku."

Tentu saja.

Lalu, ketika ia berdiri dari kursi rotan di seberang sana, tanpa menyentuh kue nastar rasa pisang buatanku, satu tetes air mata keluar dari kedua bola mataku.

Aku mengamini, namun hatiku tetap saja berat melepas ia.

"Aku ingin menikmati kue nastar rasa pisang buatanmu dengan anak-anak kita kelak, Drea. Semoga malaikat mengamini dan Allah mengabulkan."

Sejak saat itu, aku ingin mencintainya karena Allah. Karena dengan begitu, kelak jika kami berjodoh, Allah mempertemukan kami dengan cara yang lebih romantis dari sekedar menikmati angin malam di teras rumah.

Dia yang kucintai saat ini akan kurelakan hanya untuk melihat bahwa janji Allah dalam al-quran tidak pernah ingkar. Insya Allah.
Jumat, 26 Februari 2016 - 0 komentar

Konsepsi Menulis

sumber

Menulislah karena kau jatuh cinta pada kata,
Kemudian berusaha menuangkannya dalam bentuk frasa
Rangkailah kata-kata itu dengan rasa
Kemudian buatlah konsolidasi pada cerita
Katanya, mencoba mendengarkan rasa lebih indah 
daripada menulis karena ingin meyuarakan rasa
Kamis, 25 Februari 2016 - 0 komentar

Bersama Lawang Sewu

DARMA.
D-a-r-m-a!

Sudah berapa kali aku merapal dan mengeja nama itu? Kurasa, tak terhitung. Ratusan, atau bahkan ribuan kali aku mengejanya? Namun hingga saat ini, aku belum mengerti... sihir apa yang digunakan orang itu sehingga membuat otakku yang lelah ini masih sempat memikirkannya?

"Ke Lawang Sewu yuk, Nay!"

Bahkan beberapa kalimat yang malam ini menggangguku muncul. Seolah ada ribuan stereo radio di gendang telingaku. Atau boleh jadi, suaranya sudah terlanjur terpatri di otakku?

"Acaranya masih berlangsung lho, Ma."

Senyum sederhananya kadang menjadi amunisi yang membuatku tak berani menolak apa pun ajakannya. Seperti saat ini.

Di bawah guyuran air hujan langit hitam kota Semarang, aku memeluk pinggang Darma saat ia membawaku ke Lawang Sewu dengan vespa birunya. Perasaan hangat, merasa memiliki dan entah perasaan-perasaan lain menyambangi tubuhku. Rasanya, aku ingin mengeratkan pelukanku; mencoba mencari sebab kenapa ia menjadi candu hebat untukku.

"Ini Lawang Sewu saat malam hari berselimut hujan, Nay. Tutup. Nggak bisa dinikmati keindahannya sama sekali."

Tawa kecutku menderu. Aku tahu Darma tidak terlalu bodoh menerjemahkan cuaca, apalagi waktu dan suasana. Di atas jam sepuluh malam tentu saja Lawang Sewu tutup. Dan aku tahu, Darma juga terlalu pintar untuk menerjemahkan semua ini. Hingga aku yang otaknya bekapasitas rendah malah kelimpungan mencoba menganalisis.

Darma berdiri di dekatku, tepatnya di samping kananku. Dengan tinggi badan yang cukup, aku mencoba melihat wajahnya untuk kuanalisis. Tadi, ia tak mau kuajak berteduh di salah satu pos tak terpakai yang ada di depan gedung Lawang Sewu, atau beberapa tempat beratap yang ada di sekitar Lawang Sewu. Namun ia lebih memilih berdiri di dekat lampu taman Tugu Muda; bertepatan dengan pintu utama Lawang Sewu. Hujan, kebasahan dan... sedikit romantis.

Kucoba tersenyum, mengeraskan usaha untuk menganalisis.

Kali ini hujan menderas.

Darma juga telah meninggalkan kewarasannya untuk sedikit egois saat meninggalkan acara yang sama-sama kami hadiri. Di mana ia seharusnya sedang berdiri di panggung menjadi MC, memandu acara bersama salah satu MC lainnya. Namun saat melihatku duduk sendiri di pojok ruangan salah satu gedung kampus yang terletak tepat di belakang panggung, Darma mengucapkan ajakan yang bermakna perintah; tak terbantahkan.

"Dia jadian, Nay."

Dia? Siapa?

Aku kembali menajamkan analisisku. Semakin lama, aku semakin kelimpungan. Sebenanya, Darma yang sulit dicerna atau aku yang terlalu bodoh mencerna?

"Zera... dia baru aja ditembak Reno di panggung, di depan mataku," katanya.

Ah, sekarang aku paham. Darma patah hati. Bagaimana aku tidak tahu?

Oh iya! Sepanjang acara tadi aku sudah bersembunyi. Luka menganga melihat Darma bercengkrama dengan Zera di depan panggung membuatku tiba-tiba imigren. Meski seharusnya aku tidak boleh begitu. Bagaimanapun, mereka hanya mengemban amanah.

"Sayang banget, aku kalah cepat."

Sudah, aku sudah mengerti.

Aku mengerti bahwa ini bukan hanya malam puncak kesakitanku sendirian. Aku saat ini sakit bersama seseorang yang menjadi penyebab sakitku. Bonusnya, kini ia sakit akibat orang lain. Setidaknya, di sini kami tidak saling melukai.

Wajah basahnya tidak ia pedulikan. Ia melipat kedua tangannya di dada, bergeser hingga tubuhnya berhadapan denganku.

"Bisakah kamu memberiku obat penyembuh patah hati, Nay?"

Aku tersenyum, rasanya lucu. Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu?

"Kalau apotek menyediakannya untuk kubeli. Aku nggak akan ragu buat lari-larian di tengah hujan begini buat membelikannya untukmu, Ma," kataku. "Sayangnya, obat itu enggak ada. Bahkan... sekeras apapun kamu mencari." Satu tarikan napas terlepas. Aku bernapas, tapi rasanya agak sesak.

Darma beralih tatap ke objek lain; ke gedung Lawang Sewu yang diguyur hujan.

"Kalau gitu, temani aku sampai pagi, Nay. Melihat gedung ini--berdiam diri sampai lukaku luruh dengan hujan. Memandang Lawang Sewu seperti ini selalu menjadi intermezo tersendiri buatku. Barangkali inilah satu-satunya obat yang aku butuhkan."

Tes... tes... tes....

Air hujan berjatuhan. Aku mencoba berpikir, namun satu titik temu tak kutemukan juga. Sebenarnya apa yang kucari?

Satu tarikan napas. Lagi. kali ini aku mencengkram lengan kemeja Darma. Kuat. Hingga dengan terkejut ia menoleh ke arahku dengan satu alis yang terangkat.

"Kalau sekarang aku bilang aku punya penawarnya, kamu mau percaya?"

Darma menyipitkan mata.

"Ya, aku bukan punya obat, tapi penawar. Mungkin kamu berasumsi bahwa dua kata itu memiliki makna yang nyaris sama. Bagiku itu beda." Aku menghela napas.

"Mencintai lagi, membuka hati. Lalu lupakan masa lalu. Itu... penawarnya, Ma," kataku. "Itu sulit, tapi di dunia yang serba abu-abu ini, seharusnya itu bukan suatu ketidakmungkinan." Aku mencoba menenangkan diriku.

Kali ini aku mencoba menganalisis lagi. Namun ketika tanpa sengaja mulutku berkata, "Satu lagi... aku mencintaimu. Bagaimanapun terlambatnya aku." Aku tahu, kelancangan telah kulontarkan. Namun bagaimanapun, itulah kejujuranku yang semoga bisa sedikit mengobatiku sendiri.

Tes... tes... tes....

Sunyi. Barangkali Darma kini sedang berbalik menganalisisku.

Beberapa menit berlalu, ia tersenyum. Tangannya dengan tiba-tiba mengacak rambut basahku. Aku tidak memahami apa yang coba ia sampaikan. Sejujurnya aku berharap ia merespon pernyataanku dengan lebih baik. Namun semuanya abu-abu. Kami hanya dua manusia yang sedang saling menanyakan apakah obat patah hati itu ada?
Rabu, 09 Desember 2015 - 0 komentar

Kata Kita

"Kita putus, Reno!" Bian berkata dengan sorot mata yang cukup tajam. Tegas, jelas dan tanpa embel-embel ingin dibantah.

"Kenapa?" tanya Reno dengan air muka yang bertempias-- akibat mendengar kata mengerikan dari Bian; kekasihnya.

"Kita putus, Reno!" tandas Bian sekali lagi. Ia tak suka dicela atau dibantah. Perkataannya adalah hukum.

Reno tak tahu harus berkata apa lagi untuk menjawab perkataan Bian. Tubuhnya sudah limbung terlebih dahulu sejak Bian bicara kata mematikan itu. Pu-tus.

"Baik. Kita ... Putus," kata Reno yang masih menelungkupkan kepalanya. Ia belum berani menatap mata Bian. Takut terjerat cinta. Bisa-bisa, ia tak kuat mengatakan kata pisah. Ia terlalu cinta. Atau mungkin boleh dikatakan terlanjur sayang. 

Kau tahu kan bagaimana rasanya jika kau terpaksa mengatakan pisah pada seseorang yang teramat kau sayangi? Atau kehilangan sesuatu yang sudah menjadi candu buatmu? Kalau belum, bisa jadi kau sedang akan mengalaminya. Tidak lama lagi. Jadi yang harus kau lakukan hanya percaya kalau rasanya sangat menyakitkan. Nyaris sama dengan ketika kau tak sengaja melukai jemarimu dengan pisau yang amat tajam. Bedanya mungkin pada kedalamannya. Perih.

"Kamu tahu kan kenapa aku minta putus?" Mata Bian menusuk ke arah Reno yang terlihat tak bertenaga. Bahkan ketika Bian mengajak adu tatapan pun, ia tak mau. Barangkali, tak sanggup.

"Kamu itu ngebosenin tahu nggak! Kamu sukanya diem. Aku capek." Bian yang sudah kesal bertambah kesal ketika hingga kini Reno tak menatap dia.

"Kamu itu pengecut. Coba kamu hitung, berapa kali kamu bilang sayang sama aku? Coba kasih tau aku?!" Bian meninggikan volume suaranya.

"Hampir tiga belas bulan kita bareng-bareng. Tapi aku cuma denger kamu bilang cinta dan sayang sama aku nggak lebih dari sepuluh jariku. Kamu tahu kan aku suka perhitungan?" Bian bertanya.

"Kamu tuh nggak seru! Tiap kali cerita aku terus yang mulai. Bahkan ketika menghubungimu pun aku yang mulai! Kamu nggak pernah denger ya kalau cewek punya gengsi yang lebih tinggi buat nyapa duluan?! Dimana-mana cewek itu minta di chat dulu, bukan ngechat dulu.

"Kamu itu terlalu bisu. Aku capek, Reno! Kapan kamu bisa bikin aku ketawa?" Bian bukan menuntut, ia hanya ingin mengoreksi Reno.

"Kamu tau nggak sih, cewek itu lebih suka ditanya daripada ditanya. Nggak ada sejarahnya cowok diem itu menyenangkan. Kalau pun ada yang bertahan, pada akhirnya cewek bakalan mikir, cowok pendiem apa menyenangkannya? Apa yang bisa dijadian alasan buat bertahan? Yang ada si cewek mati kebosanan!"

"Aku lebih suka cowok yang bisa diajak rame, Reno. Kalau kamu bertanya kenapa tidak dari dulu aku minta putus, itu karena aku berpikir mungkin waktu bakalan ngajarin kamu buat terbiasa sama kita. Tapi kayaknya aku salah. Ini bukan soal waktu, tapi soal pribadi masing-masing. Meski waktu, kutahu adalah tolak ukur kita belajar. Tapi kamu enggak, Reno." Bian menghela napas. Ia sudah merasa sedikit lega mengatakan unek-uneknya.

Beberapa detik mereka saling diam. Detik ke dua ratus lima puluh, Bian kembali bersuara. "Kamu nggak mau bilang sesuatu sebelum aku lenyap?" tanya Bian kepada Reno yang masih menundukan kepalanya.

"..."

"Nggak apa-apa. Lagian kita udah putus. Aku udah ngeluarin amarah yang kupendam selama ini. Mungkin kamu bakal jengkel denganku. Tapi inilah keluh kesahku."

Bian menghela napas sekali lagi. Tangannya secara sembarang mengambil tas tangan berwarna cokelat yang ada di sampingnya. Saatnya ia pergi; lenyap segera dari hadapan Reno.

"Maaf," kata Reno membuat Bian terkejut.

"Maaf, aku terlalu pendiam. Bahkan untuk mengatakan seluruh perasaanku kepadamu." 

Bian tercenung. Ia kembali duduk setelah mendengar tutur kata Reno.

"Aku hanya tidak tahu caranya. Aku bodoh, Bi."

"..."

"Kamu boleh pergi. Tapi aku masih mau tetap di sini."

Bian mendongakkan kepalanya menatap Reno.


"Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu. Melebihi sayang seluruh makhluk di bumi. Tapi aku nggak tahu caranya bilang. Karena semua kata, tidak bisa mewakilinya."
Sabtu, 14 November 2015 - 0 komentar

[Jatuh] Cinta

A/N udah lama nggak posting cerpen di blog. Aku kangen :')
Ohya, cerpen ini adalah repost dari wattpad. Event Abnormal Fofattare, Grup kepenulisan LINE pertamaku.

Selamat membaca :)
---


Namanya Deora Ramadhani, seorang gadis yang menyita seluruh perhatian Pandu saat kali pertama mereka di pertemukan di sebuah kedai ice cream oleh temannya. Pertemuan keduanya biasa saja. Hanya sekedar mengobrol, membicarakan hal-hal sepele mengenai kampus dan cerita pribadi yang umum.
"Deora itu seorang web desaigner lho," celetuk Gama sedikit melirik ke arah Pandu.
"Iya, bahkan desainnya sempat dilirik perusahaan asing," lanjut Wilma sembari menjawil lengan Deora.
"Jangan percaya, mereka lebay. Berlebihan." Deora merendah. Tertawa sembari melambaikan tangannya. Menyuruh Pandu untuk tidak terlalu mengindahkan pujian itu.

Namun Pandu telah terkesima, bahkan sebelum kedua teman mereka mengatakannya. Dalam balutan kemeja putih dan jeans abu Deora sudah mengundang ketertarikan Pandu. Tidak biasanya, bahkan Pandu sendiri bingung. Padahal, Deora hanya gadis biasa yang tidak suka pakai
make up.

"Keren dong," kata Pandu.
Deora tertawa, dan Pandu menyadari sesuatu. Ia sekarang paham kenapa Deora begitu berbeda. Ekspresi. Iya, perubahan ekspresi Deora sangat menarik.
"Lebih hebat mana sama cowok yang dalam dua kali periode berturut-turut berhasil menduduki jabatan Gubernur BEM Fakultas?" Alis Deora naik turun menggoda Pandu.

Pandu tertawa, ia tidak menyangka kalau Deora tau tentang Pandu.
"Siapa nih yang bilang? Gama? Pasti Gama kan?"
          
Pandu meninju pelan bahu Gama yang kini sedang cekikikan. Begitu juga dengan Wilma, yang merasa terhibur dengan percakapan ini. Sejak awal Gama tahu kalau Pandu akan menyukai Deora. Sambil menyelam minum air, Gama mendekati Wilma sedangkan ia ingin Pandu dekat dengan Deora. Dan sepertinya, misinya kali ini berhasil.

"Gama emang bilang kalo kamu itu Gubernur BEM. Tapi percaya deh, Gama nggak pernah bilang tentang masa jabatan kamu," kata Deora sembari tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
"Terus kamu tau dari siapa?" tanya Pandu penasaran.
Deora tersenyum, memberi jeda supaya Pandu penasaran, "Hm, ada deh."

***

Pandu berkacamata, beralis tebal, dan dikenal sebagai Gubernur paling kaku yang pernah menjabat. Anehnya, semua anggota BEM tidak keberatan Pandu menjabat dua kali periode. Pandu pintar, selain itu wajahnya juga enak dipandang. Hanya perlu sedikit senyum maka semua gadis di kampus pasti sadar betapa menyenangkannya wajah Pandu itu.

Dua minggu berikutnya, Gama kembali mengajak Pandu. Menemui Wilma dan Deora di kedai ice cream. Saat ini status Gama dan Wilma telah resmi, dua hari lalu Gama diterima menjadi pacar Wilma.

"Hari ini khusus traktiran Wilma dan Gama. Kita nggak mau tau, iya kan, Du?"
Deora menyenggol lengan Pandu berkali-kali, kebetulan Deora memang sedang duduk disampingnya. Pandu yang sedang sibuk melamun mengerjap, terkejut dengan aksi yang diberikan oleh Deora terhadap Pandu.
Deora tertawa melihat Pandu.

"Gila ya Ma, temen kamu yang satu ini ngegemesin banget. Ekspresinya itu lho, gampang terkejut. Apalagi pipinya, sering blushing."
          
Gama dan Wilma tertawa. Sedangkan Pandu tersenyum malu. Jantungnya kali ini berdetak tidak waras.
          
"Kalo boleh, aku bawa pulang deh."

Blush. Kali ini Pandu tak dapat menyembunyikan ledakan bahagia didadanya. Ia senang, bahkan terlalu senang.

"Tuh kan, liat deh." Deora menatap Pandu. Kemudian dengan jahil jemarinya mencubit pipi Pandu. Membuat kedua mata cokelat Pandu melotot.

***

Tidak bisa dipungkiri kalau ternyata Pandu menyukai Deora. Bisa dilihat dari bagaimana bahasa tubuh Pandu yang gelisah menunggu Deora.  Mereka janjian pukul tiga sore, bertemu untuk mengobrol berdua, tanpa Wilma dan Gama. Tapi Pandu yang terlalu semangat sudah duduk manis di salah satu kursi kedai setengah jam lalu.
          
Tepat empat puluh menit menunggu, Deora datang. Ia tersenyum amat lebar begitu mendapati Pandu melambaikan tangan ke arahnya.
Lagi-lagi, Pandu dibuat terpesona oleh Deora.

"Kamu cantik," kata Pandu reflek. Begitu ia sadar apa yang baru saja ia ucapkan, ia langsung mengatupkan mulutnya. Malu.
"Thanks," kata Deora tersenyum senang.
"Nggak nyangka, ternyata Pandu bisa juga ya ngerayu cewek."
Pandu tertawa, ledakan bahagia itu muncul lagi.
"Duduk deh, aku pesenin ice cream kesukaan kamu, ice cream tiramisu."
"Makasih, Bapak Gubernur BEM."
Merekapun tertawa.

***

Beberapa jam mengobrol seru dengan Deora, Pandu bisa langsung memastikan kalau dirinya memang jatuh cinta pada mahasiswa hebat ini. Mahasiswa semester lima yang sudah bekerja sebagai seorang profesional web designer untuk salah satu resort terkenal di Gili Trawangan, Lombok.
          
"Pandu, nyanyi buat aku dong." Pinta Deora begitu ia melihat kearah panggung, dimana MC di kedai itu mempersilahkan pengunjung untuk menyumbang lagu.
"Hah? Aku nggak bisa nyanyi."

Deora mendecak. "Semua orang bisa menyanyi, Pandu. Hanya saja tidak semua orang bisa menjadi penyanyi. Ayo dong."

Pandu menghela napas, melihat ekspresi Deora yang begitu antusias membuatnya sedikit merasa harus mengalah. Ia kemudian mengangkat tangannya, begitu si MC melihat, Pandu maju ke arah panggung. Ia duduk di kursi tinggi, memegang gitar berwarna cokelat. Ia grogi, terlihat sekali saat dia berulang kali membenarkan posisi kacamatanya, yang sebenarnya tidak pernah berubah.

"Ini buat seseorang yang maksa minta dinyanyiin. Jangan kecewa kalo suaraku menggema, dan sangat jauh dari kata bagus."

Deora yang tengah duduk tertawa, sembari matanya fokus ke arah Pandu, ia menyendokkan ice cream tiramisunya kemulut. Diam-diam, hatinya ikut senang. Setelah sekian tahun mengamati, ternyata ekspresi Pandu mengalami kemajuan pesat. Bahkan saat berada di panggung dengan gitar di tangannya, ia seolah lupa kalau ia adalah seorang Gubernur BEM—Orang yang kalau ketemu panggung harusnya pidato, bukan menyanyi.
Pandu mulai memetik gitar. Sudah jelas terlihat bahwa Pandu bukanlah seorang yang buta akan musik. Meski terkenal kaku dan tidak suka tersenyum, Pandu adalah laki-laki multitalenta. Hanya saja, ia tak terlalu suka menunjukannya.

♫♫
It’s taking us downtown
You’re watching me, watching me, watching me go
But I never listen
No I never let you move
Now we’re headed uptown
Is their someting nothing you wanted to say?
Cause I need to go now
Do you want me to stay?
I said a stay-e-ay-e-ay-e-ay-ay-ay.
Is you tried, let it go, let it go
What you need to find
Is someone who will never let you go
Noooo, and sunshine and city lights
Will guide you home
And noooo, yeah you gotta know
That I’ll never let you go

Pandu selesai menyanyi, dan riuh tepuk tangan pengunjung menghujani penampilan Pandu. Ia tersenyum, kemudian berjalan kearah mejanya kembali.

***

"Pandu, kenalin ini Gio."

Pandu mengernyitkan keningnya begitu mendapati seorang laki-laki yang tengah mengobrol seru dengan Deora.

"Pandu," katanya singkat.
"Aku udah kenal kamu, Pandu. Gubernur BEM Fakultas Teknik kan?"

Pandu kembali mengernyitkan keningnya, "Aku anggota klub teater. Gionino. Yang waktu acara pentas budaya kampus minjem properti ke Sekre."

Pandu mengangguk-angguk. Ia sebenarnya tidak ingat.

Gio tertawa. "Yaudahlah... Nggak usah dipikirin. Nggak penting," katanya. "Sori, aku dateng kesannya tiba-tiba. Aku baru pulang dari Lombok, nih nemuin papanya si tembem."

"Enak aja manggil tembem. Tirus gini." Deora memegang pipinya, ia yakin kalau pipinya memang tidak tembem. Gio saja yang suka iseng.

Pandu nampak kebingungan, pertama karena tiba-tiba ada seorang cowok yang menghampiri Deora. Kedua, tentang hubungan kedua orang dihadapannya. Untuk apa Gio jauh-jauh ke Lombok menemui ayahnya Deora?

"Jadi aku itu ngelamar Deora udah lama."

DEG

"Tapi dia bilang mau nyelesein kuliah dulu. Dan biar dia mikir cepet, ya aku langsung aja lamar ke bapaknya. Masalah nikah, gampang. Yang penting aku udah lamar dia." Gio tersenyum. Menunjukan deretan giginya.
"Biar dia nggak kecantol sama cowok.... Aw, De, kamu tuh kebiasaan deh." Gio mengelus lengannya begitu Deora dengan kekuatan besarnya mencubit daging tipis milik Gio.
"Ember," kata Deora.

Seketika itu juga Pandu lemas. Rasanya jantungnya berhenti berdetak.

"Makanya, aku buru-buru nyari dia begitu aku sampe di sini. Ternyata, Deora lagi berusaha selingkuh ya..."

Deora kembali mencubit lengan Gio. Gio mengaduh, kemudian dengan jahil menggelitiki perut Deora. Mereka berdua kemudian sibuk saling menggelitiki, tidak menghiraukan ada Pandu yang kini berusaha menenangkan jantungnya yang tak karuan.

***

Saat ini Pandu lebih bisa berekspresi. Ia bukan lagi seorang Gubernur BEM yang miskin ekspresi, kaku, dan tidak mudah senyum. Lebih-lebih ketika ia mendengar berita mengejutkan tentang Deora yang akan tunangan, dua hari lagi.

"Pandu." Tepukan bahu itu membuat Pandu yang tengah sibuk dengan gitarnya menoleh. Iya, Pandu sekarang lebih suka mencurahkan ekspresinya lewat musik. Setelah beberapa bulan mencoba menghindari Deora, ia berusaha tegar, menutupi kegalauannya lewat musik. Ternyata, setelah beberapa kali diasah, kemampuan minimnya mengenai musik bertambah. Bahkan, beberapa kali ia pernah menjadi pengisi acara di kampus. Bukan untuk pidato sebagai Gubernur BEM, tapi sebagai penyanyi. Seperti saat ini, diacara Seminar Karya Sastra yang diadakan oleh Fakultas Sastra. Cuma sebagai jeda, penghibur bosan.

"Giliran kamu tuh." Gama salah satu panitianya.

Pandu mengangguk, kemudian berjalan perlahan sembari memegang gitarnya. Sebelum benar-benar ada diatas panggung, yaitu tepat diperbatasan backstage, ia berhenti. Seseorang memanggilnya.

"Boleh bicara sebentar?"
Pandu menoleh, "Deora?"
          
Deora tersenyum. "Aku mau bilang sesuatu, dan tolong dengerin aku. Karena aku nggak akan mengatakannya dua kali."

***

Dengan perasaan serba entah Pandu mulai memetik gitarnya, ia menatap sembarang. Pikirannya kacau.

"Du, kamu harus cepet-cepet mulai." Bisik seorang panitia ketelinga Pandu. Membuat Pandu tersadar bahwa ia sedang berada di sebuah panggung. Ditonton oleh banyak pasang mata.
"Ekhm…" Pandu mulai menyapukan matanya dengan sadar. "Sori, kepalaku lagi pusing." Ia tersenyum.
"Sebenernya tadi aku mau nyanyi lagu bit up, tapi berubah jadi mellow, karena sesuatu telah berubah. Keadaan, hati dan takdir.”

Tanpa ragu, Pandu kembali memetik gitarnya. Kali ini ia bernyanyi dengan segenap perasaannya, ia memejamkan mata. Kembali mengingat beberapa menit lalu ketika Deora mengakui sesuatu padanya.

♫♫
My heart beats a little bit slower
These nights are a little bit colder
Now that you’re gone
My skies seem a little bit darker
Sweet dreams seem a little bit harder
I hate when you’re gone

"Aku cinta kamu, Pandu. Itu yang aku mau bicarakan."

♫♫
Everyday time is passing
Growing tired of all this traffic
Take me away to where you are.

"Kalau kamu nggak percaya nggak apa-apa. Tapi kamu harus tau, alasan kenapa aku tau tentang kamu itu bisa dijadikan bukti. Meskipun bukan bukti mutlak."

♫♫
I wanna be holding your hand
In the sand
By the the tire swing
Where we use to be
Baby you and me
I travel a thousand miles
Just so I can see you smile

Sembari menangis, Deora berkata, "Tapi kita cukup sampai di sini. Ini egois, kita belum memulai tapi aku sudah mengakhiri. Itu... Karena aku akan menikah. Setelah wisuda nanti."

♫♫
Feels so far away when you cry
‘Cause home is in your eyes
Your heart beats a little bit faster
There’s tears where there use to be laughter…
Now that I’m gone…

“Meski begitu, aku nggak bisa menyembunyikan, bahwa aku menyukaimu. Dan maaf, sudah membuatmu kecewa. Maaaf sudah membuatmu merasa bahwa aku gadis yang tak tau diri, aku hanya ingin mengatakan isi hatiku.”
Dan saat itu juga Pandu tiba-tiba berhenti, apa hanya aku saja yang merasa bahwa mencintai bisa sesakit ini?