Sabtu, 01 Oktober 2016 - , 0 komentar

INDIVIDUAL WRITING TASK: Quotation and Citation


For assignment on 3rd semester.

Direct Quotation (Citation) and Paraphrasing
1.      One Work by One Author
a.    Direct Quotation (Citation)
“A text can be defined as an actual use of language as distinct from a sentence which is an abstract unit of linguistic analysis” (Widdownson, 2007, p.4).
b.   Paraphrasing
According to Widdownson (2007), a text is an actual use of language that include a sentence which is an abstract unit of linguistic analysis (p. 4).

2.      One Work By Multiple Author
a.    Direct Quotation (Citation)
Ø  Two Writers
“For the writer, childhood reality was an illusion. His sense seemed sharper and everything around him seemed bigger when he was little. In comparison, adult life is disappointing, and the only time he can see it through a child’s eyes again is when he is on stage making people laugh” (Greenall and Pye, 1991, p.20).
Ø  More Than Two Writers
“Sales promotion is activity intended to boost sales, such as price promotions, loyality incentives” (White et al, 2008, p.103).
b.   Paraphrasing
Ø  Two Writers
According to Greenall and Pye (1991), the childhood reality was an illusion. Everything around him seemed bigger and happy when he was little. The other way, adult life is disappointing, and the only time he can see it through a child’s eyes again is when he is on stage making people laugh.
Ø  More Than Two Writers
According to White et al (2008), sales promotion is someone that have activity to boost sales product, such as promotions and loyality incentives.

3.      Group As Author
a.    Direct Quotation (Citation)
“Good learners make their own opportunities and find strategies for getting practice in using the language inside and outside the classroom” (Teachers of English to Speakers of Other Language [TESOL] 2001, p. 31).
b.   Paraphrasing
(Teachers of English to Speakers of Other Language [TESOL] 2001, p. 31) if we are good learners, we’ll make our opportunities and find strategies for getting practice in using the language inside and outside the classroom.

4.      Authors With The Same Surname
a.    Direct Quotation (Citation)
M. Anderson and Anderson (1997), “The narrative text type tells a story. Its purpose is to present a view of the world that entertain or inform the reader or listener. It is related to the recount text type”.
b.   Paraphrasing
According to M. Anderson and Anderson, narrative is a type of text that tells a story. Its purpose to present a view of the world that entertain and inform the reader or listener. Its related a recount text.

5.      Secondary Sources
a.    Direct Quotation (Citation)
“There are, it seems to me, important differences between languages in the way which discourse topic is identified in a text and in the way in which discourse topic is developed in terms of exemplication, definition, and so on” (Kaplan as cited by Swales, 1990).
b.   Paraphrasing
According to Kaplan 1990, the important differences between languages in the way in which discourse topic is identified in a text and in the way in which discourse topic is developed in terms of examplication, definition and so on.

Citation
Classical Works
“Blessed is He in Whose Hand is the dominion, and He is Able to do all things. Who has created death and life, that He may test you which of you is best in deed. And He is the All-Mighty, the Oft-Forgiving” (Qur’an 67:1-2).
Kamis, 11 Agustus 2016 - 0 komentar

Jelaga Tawa

"KITA tak pernah mencoba memahami bukan, bahwa saat kita tertawa pada waktu yang sama ada segelintir orang yang tak merasa bahagia. Maksudku, kita tidak pernah mencoba untuk tertawa yang sewajarnya. Kita terlalu larut dalam satu kejadian bernama bahagia hingga kita lupa pada kewajiban kita untuk bersyukur kemudian berbagi kebahagiaan dengan orang lain."

Itu salah satu kutipan pidato Orfa, cowok kulit hitam berusia enam belas yang suka baca buku teori bahagia, tawa dan tangisan. Dia manusia teraneh yang pernah kutemui. Satu-satunya, untungnya.

Tapi aku bangga, seandainya saja Papa tidak mengirimku ke Gili Trawangan, aku yakin seratus persen kehidupanku tidak akan seaneh ini.

Kali pertama aku bertemu dengannya, dia tanpa malu menjabat tanganku. Dengan senyum lebar dan dada membusung ia berkata, "perkenalkan saya Orfa, calon pendidik ternama mengenai bahagia. Kamu bisa memanggilku tuan Jelaga Tawa."

Saat itu yang pertama kali aku pikirkan adalah, bagaimana bisa Papa mengirimku ke pulau yang penghuninya orang gila? Papa pasti ingin aku mati secara perlahan. OMG!

***

Seringkali aku mendengar Orfa membual, namun di balik itu ia sangat rajin membaca banyak buku. Hingga akhirnya, dia tiba-tiba berkata, "Fel, bagaimana caranya kita bisa pergi ke Jakarta tanpa uang sepeser pun?"

Kukernyitkan dahiku ketika mendengar pertanyaan Orfa. Namun satu hal yang menjadi pertanyaanku saat itu, "Orfa mau buat hal aneh apalagi?"

Minggu lalu, Orfa bikin heboh warga kampung karena ia mengumpulkan anak-anak untuk mencari kayu kelapa hingga maghrib tiba. Ternyata, kayu hasil kumpulan tadi ia gunakan untuk membuat gubuk kecil tempat ia menaruh koleksi bukunya.

"Aku ingin membuka taman bacaan, Fel." Begitu katanya setelah kutanya mengapa dia sampai membuat gubuk dari kayu kelapa.

"Di sini susah mencari bambu, jadi lebih baik memanfaatkan sesuatu yang ada bukan?"

Aku tersenyum, saat itulah aku mulai dapat merangkai seluruh tingkah Orfa. Aku tahu kenapa ia ingin menjadi pendidik bahagia. Ternyata tujuannya mulia.

"Meski NTB termasuk wilayah yang rendah pendidikan, kita tak boleh menyerah begitu saja. Harus banyak baca buku, dengan itu kita sudah bisa dikatakan terdidik. Karena pendidikan salah satu upaya untuk menebar bahagia. Kamu paham maksudku, Fel?"

Aku mengangguk.

***

"Aku bisa membawamu ke Jakarta, Fa," kataku.

Saat itu, Orfa si manusia aneh mengernyitkan kening mendengar pernyataanku.

Kuanggukkan kepalaku dengan yakin sebagai tanda bahwa aku serius.

"Tanpa biaya," tegasku.

Orfa tersenyum tanpa banyak tanya. Ia yang sedang asik menata buku di rak yang ia buat dari ranting pohon menghampiriku, memegang bahuku dengan tangan kuatnya sembari berkata, "terimakasih rekan tawa, bisakah kita berangkat besok pagi?"

Aku mengangguk terharu. Meski sampai detik ini aku tak mengerti kegiatan apa yang akan dilakukan Orfa nanti, aku yakin dia punya tujuan yang baik. Hitung-hitung, aku memberinya hadiah untuk hari ulang tahunnya nanti, tanggal 7 Juli seminggu lagi.

***

Dari kampung tempat kami tinggal, kami menggunakan kapal milik Paman Muh. Kebetulan dia adalah kenalan Papa. Jadi ketika kuceritakan tentang Orfa dia dengan suka rela memberi tumpangan.

Kapal yang kami tumpangi hanya sampai di Bali. Aku sudah merencanakan perjalanan ini tiga hari atas saran Papa. Jadi meski aku tahu Papa yang membayar seluruh biaya dan membantu aku dalam meminta pertolongan beberapa orang, yang terpenting Orfa tidak sampai mengeluarkan uang.

"Kenapa kamu pengen ke Jakarta, Fa?" Aku bertanya di sela perjalanan. Kami baru saja menjejakkan tubuh kami di Jakarta.

Orfa yang tampak terpesona dengan gedung pencakar langit yang ada di balik jendela bus menoleh ke arahku.

Senyum yakinnya membuatku bergidik ngeri, mata elang Orfa seolah dia ini pejuang revolusi yang tak akan mundur sedikit pun. "Aku ingin demo kepada presiden," katanya ringan.

Terkejut, aku melebarkan mataku ke arahnya.  Rasanya tidak percaya. Untuk apa? Dia gila, ya!

"Aku ingin berbicara padanya tentang pemerataan pendidikan yang ada di kampungku, Fel."

"Kamu gila ya! Kamu pikir, kamu siapa?! Nggak ada yang mau dengerin kamu. Yang ada kamu diusir!" Kuusap wajahku yang bertempias. Demi apapun ini di luar ekspektasiku. Aku pikir Orfa bakal melakukan kegiatan sosial atau apapun yang bermanfaat. Tapi ini... arghhh! Gila! Kayaknya aku udah salah berteman deh.

"Dengar dulu, Fel. Aku hanya ingin daerah timur bisa sebagus Jawa pendidikannya, aku hanya...."

"Kamu bodoh, Fa! Kamu nggak pernah baca koran atau surat kabar, ya? Atau kamu nggak pernah nonton berita di televisi?!" Aku mulai emosi. "Kamu kira pemerintah diam saja?! Pendidikan di daerah timur sedang diusahakan, Fa! Tunggu saja. Yang harus orang-orang timur lakukan adalah berjuang. Seperti apa yang pernah kamu bilang, banyak membaca buku. Bukankah kamu setuju kalau banyak membaca buku otomatis kita juga sudah terdidik? Tinggal kita Fa yang berjuang. Kita harus belajar banyak, dukung pemerintah. Kamu! Kamu yang lebih pandai jangan hanya menuntut pemerintah. Bukankah kamu udah punya modal taman bacaan? Ajarkan sama anak-anak kampung. Berpikirlah realistis sedikit!"

Orfa seketika menunduk. Kulihat beberapa orang yang ada di bus menghujamiku dengan tatapan penuh tanya. Sekarang, aku merasa seperti sedang berorasi. Apa aku yang terlihat gila sekarang?

***

Hari kedua di Jakarta Orfa ternyata tidak menghiraukan ucapanku. Ia tetap ngotot mau ke gedung Istana Merdeka.

Rasanya aku sudah lelah kalau melihat tingkah Orfa. Dia keras kepala. Aku mendengus sebal, kuhentikan langkahku untuk mengikuti Orfa menuju gedung Istana Merdeka. Ternyata aku yang lebih bodoh karena tidak bertanya dulu sebelum mengabulkan permintaannya ke Jakarta.

"Aku mau ke Gili Trawangan! Aku mau pulang! Aku udah nggak mau lagi ngikutin cara pikir kamu yang nggak waras! Pokoknya AKU MAU PULANG! Tan-pa ka-mu!"

Orfa diam saja ketika aku berbalik meninggalkannya. Aku rasa dia memang kepala batu.

Beberapa menit berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi langkahku. Dia Orfa si kepala batu.

"Kenapa? Berubah pikiran?" tanyaku sebal.

Orfa tidak menjawab, tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu ia menarik tanganku. Menyeretku berbalik. Aku yang tak terima dengan perlakuannya segera berontak. Namun Orfa tetap memaksaku ikut.

Sampai akhirnya, Orfa marah karena aku tak bisa diam. Mata elangnya menghujamku. Takut, tiba-tiba saja air mataku jatuh.

Orfa menghela napas, ia lepaskan tanganku dan mulai mengusap air mata di pipiku.

"Maafin aku, Fel. Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma mau kamu percaya sama aku."

Aku menggeleng, "kamu tahu, kalau pun kamu mau bertemu dengan presiden, kamu harus melakukan hal yang lebih gila dibandingkan ini semua, Fa. Harusnya dari Gili Trawangan kamu jalan kaki, dengan begitu aku yakin setelah media massa meliput kamu, presiden dengan senang hati akan menemuimu."

Aku menepis tangan Orfa,mengusap air mataku sendiri. Sedangkan Orfa malah tersenyum.

"Ya udah, ayo masuk!"

Aku mengernyitkan kening tidak mengerti, namun Orfa malah menggerakkan kepala menyuruhku cepat masuk. Maksudku masuk ke mana? Mataku bertanya. Kemudian mataku mengikuti arah mata Orfa.

Aku menggeleng tak percaya.

"Kamu?"

Orfa mengangguk, "aku kan udah bilang, percayalah padaku, Fel. Aku udah sadar, kalau selama ini obsesiku tak beralasan. Harusnya ketika aku mendeklarasikan bahwa aku adalah pendidik bahagia, aku membuat semua orang bahagia. Termasuk kamu. Tapi aku malah buat kamu nangis," katanya.

"Pelajaran dari kamu kado terbaik di usiaku yang akan menginjak tujuh belas, Fel. Dan seperti yang kamu bilang, aku akan membuat anak-anak kampung berjuang dengan membaca buku. Di hari ulang tahunku dua hari lagi, kamu mau bantuin aku jadi pendidik bahagia? Kita ajari mereka."

Aku mengangguk. Tersenyum, aku mengikuti langkah Orfa masuk ke toko buku. Akan kuhadiahkan banyak buku untuknya agar ia berhasil menebar tawa di hari ulang tahunnya nanti.

Salam tawa bahagia dari rekan tawamu, Orfa. Aku bangga mengenalmu.
Selasa, 28 Juni 2016 - , 0 komentar

Menanti dalam Taat

Diposting juga di wattpad



"Kupantaskan diri, kugantung harapanku di malam-malam penuh doa. Aku tak pernah ragu, karena Allah selalu tahu. Kita jauh, namun dekat dalam doa."
---


"YA AMPUUUN, Drea! Kamu ngapain sih?" tanya Mbak Rana ketika menemuiku tengah kesakitan akibat terpeleset. Tadinya ekspresi Mbak Rana terlihat kasihan melihatku, namun dua detik kemudian ia malah cekikikan menertawaiku. Menyebalkan!
Mengerucutkan bibir, ku usap-usap punggungku. Gara-gara lompat-lompat aku jadi seperti ini. Mbak Rana muncul tiba-tiba sih.
"Mbak nggak ada niat buat bantuin Drea?" kataku ketika Mbak Rana malah diam menertawai posisiku yang terduduk dengan punggung kesakitan di lantai. 
Mbak Rana yang nyaris tertawa kencang itu akhirnya menghampiriku. Mengulurkan tangannya sembari berkata, "kamu sih, ngapain siang bolong gini lompat-lompat nggak jelas? Kamu masih waras kan, Re?"
Mendengar candaan Mbak Rana yang semakin tak manusiawi membuatku bertambah kesal. Bibirku mengerucut, sementara hatiku bertambah kesal. Mbak Rana itu kalau udah jahil ngeselinnya kebangetan!
"Ih, Mbak Rana ya." Menghentakkan kaki, kujauhi Mbak Rana dan duduk di sofa kamarku dengan hati yang bertambah kesal.
Iya, kenalin nih ya... namanya Rana Ayunda, kakak ipar yang sudah kuanggap sebagai pengganti almarhumah Ummi. Meski jahil, tapi dia adalah pemberi solusi terbaik saat aku butuh manusia untuk berbagi cerita dan meminta saran.
Sejak Ummi meninggal, aku diberi dua pilihan oleh Abi, aku harus sekolah di pesantren atau rela dibina dalam naungan abangku yang juga nyebelin, Bang Reza. Kemudian, pilihanku jatuh kepada opsi kedua. Meski ngeselin dan suka kontra dengan aku, aku masih sayang abangku. Setidaknya, Bang Reza nggak sekolot Abi.
Sayangnya setelah dua tahun di sini, Abi wafat. Jadilah aku dan abang yatim piatu.
Saat itulah, aku bersyukur masih diberi keluarga seperti Mbak Rana dan Bang Reza. Mereka yang membimbingku dalam segala hal, termasuk dalam beragama. Alhamdulillah, Bang Reza guru agama yang paling baik untukku.
"Re... kamu belum jawab pertanyaan Mbak lho!" Seketika lamunanku buyar. Mbak Rana mencubit pipiku hingga kemerahan. Mengaduh, kuusap-usap pipiku yang menjadi korban kejahilan Mbak Rana.
Mbak Rana tersenyum, mengejek. "Kamu ditanya malah ngelamun. Ada apa sih? Ada masalah?" tanyanya.
Sebenarnya... iya! Aku sedang ada masalah. Lebih tepatnya batinku yang bermasalah. Pikiranku dipenuhi seseorang yang akhir-akhir ini berusaha kulupakan. Sampai-sampai aku berharap dengan melompat-lompat setiap saat pikiranku tentang dia akan lebur, berjatuhan ke tanah atau hilang bersama udara yang tengah kuhirup. Namun cara itu tidak berhasil. Yang ada aku malah terpeleset.
Mungkin ini bukan masalah besar, namun ketika aku tahu bahwa aku harus menjaga hatiku sampai waktu yang tepat, aku tahu aku sedang menghadapi masalah yang lebih besar dari yang kukira.
"Cerita aja kayak biasa, Re," kata Mbak Rana.
Ragu, aku terdiam sejenak. Apa yang akan dikatakan Mbak Rana ketika adik gadisnya ini ternyata terjangkit masalah yang besar dan belum bisa mengtasinya hingga sekarang?
"Hmm... Mbak Rana, boleh nggak sih seorang muslimah itu jatuh cinta?"
Seketika Mbak Rana mengernyitkan kening. Beberapa detik ia sempat terdiam membuatku berpikir bahwa ia akan marah. Jangan-jangan dia berpikir aku tidak bisa menjaga hati dan suka jelalatan nggak jaga pandangan?
"Drea nggak jelalatan kok. Drea masih inget apa kata Mbak Rana tentang menundukkan pandangan saat bicara sama lawan jenis. Drea juga masih ingat kalau Drea ini muslimah, Drea...."
"Kamu kena virus merah jambu ya, Re?" potong Mbak Rana sambil tersenyum.
***
Jadi... namanya Adam. Seorang ikhwan yang pertama kalinya membuatku berpikir tentang satu kalimat yang dia ucapkan dalam pidato singkat saat ia diminta untuk menyambut kader LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang baru.
"Menjadi bagian yang terasingkan itu suatu keberuntungan."
Sebenarnya, bukan itu satu-satunya alasan mengapa aku selalu memikirkannya. Demi Allah, aku tak pernah menaruh perasaan lebih kepadanya pada awal perjumpaan kami. Bahkan dalam dua sampai tiga pertemuan berikutnya.
Anehnya, aku memikirkannya ketika aku mengkaji beberapa perkataannya dalam pidato singkatnya. Terutama kalimatnya yang satu itu. Aku berpikir, apa enaknya menjadi yang terasingkan? Bukannya terasingkan itu menjadi yang tersisih dan tidak dianggap? Kemudian, beberapa kali aku mencari jawabannya, ternyata aku membenarkan apa yang pernah dia katakan. Bukankah itu adalah bagian dari sabda Rasulullah?
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, "Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing." 
Aku tersenyum, saat itu aku mulai berpikir... masyaallah, cerdas sekali ikhwan itu. Siapa ya namanya?
Singkat cerita setelah beberapa kali kucari nama dan data pribadinya, aku mulai mencari beberapa akun social medianya. Mulai mengikuti setiap postingannya. Tersenyum, semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya ketika kutahu ternyata ia pernah beberapa kali menjadi pemimpin dalam organisasi yang berlandaskan keislaman.
Mulai dari hal-hal kecil dan besar mengenai dirinya aku nyatakan bahwa aku jatuh hati. 
***
"Jadi, kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Mbak Rana begitu ku akhiri ceritaku dengan satu pertanyaan, bolehkah aku jatuh cinta pada seorang ikhwan yang jelas-jelas pintar dalam agama, yang kukagumi atas ketaatannya pada ilahi?
"Boleh," jawab Mbak Rana sembari tersenyum.
Awalnya kupikir Mbak Rana akan marah. Pasalnya, aku sudah merasa berdosa karena tidak menjaga hatiku dan telah gagal menjaga hijabku.
"Tapi aku merasa tidak menjaga hatiku, Mbak. Aku malu sama Allah. Mengaku muslimah yang mencoba taat tapi mudah jatuh hati hanya karena aku menganggap dia memesona karena terlihat taat sama Allah."
Mbak Rana tersenyum lagi, kemudian tangannya segera melingkar ke tubuhku. Ia memelukku. Saat itu, aku menangis entah untuk alasan mana.
"Dengar, Drea. Mbak tahu apa yang kamu rasakan. Kamu jatuh cinta. Itu tidak salah. Karena bertemu dengan seseorang yang membuat kita jatuh cinta adalah ketetapan Allah, qodo' ilahi. Tapi, memilih untuk menjaga hati, tidak membuat rasa cinta itu melebihi cintamu pada Rabb-mu, itu mukhayyar, pilihan."
Mbak Rana mengusap air mata di pipiku setelah pelukannya lepas. "Wajar kok ketika kita jatuh cinta dengan seseorang karena kepandaiannya, ketaatannya pada Allah. Daya tarik bagi muslimah karena kita menganggap kelak imam kita dalam keluarga akan seperti itu. Yang terpenting saat ini, jaga iffah kamu. Manejemen hati adalah kuncinya."
Aku tersenyum, tuh kan kalau cerita sama Mbak Rana terasa seperti dapat pencerahan.
"Kamu boleh lho Re mengharapkan ia jadi suamimu kelak. Hehehe."
Aku tersenyum. Rasanya jantungku ingin loncat.
"Caranya adalah dengan memantaskan diri."
Aku terdiam, apa maksudnya memantaskan diri?
"Memantaskan diri itu memperbaiki diri kita menjadi lebih baik. Ingat kan janji Allah dalam Qur'an? surat An-Nur ayat 26, bahwa Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Kalau kamu mau dia yang taat, kamu juga harus taat. Janji Allah itu pasti. Karena yang baik menurutmu belum tentu yang terbaik di mata Allah. Doa, rahasia ampuh untuk kegalauanmu."
Tersenyum, kupeluk Mbak Rana sambil berbisik terima kasih. "Jadi Drea harus menyimpannya dalam doa?" tanyaku. Mbak Rana mengangguk.
"Tapi Mbaaakkk...."
"Kenapa?"
"Kalau aku kepikiran terus sama dia gimana?"
Mbak Rana seketika tertawa dan aku kembali mengerucutkan bibirku. 
"Banyak-banyak istighfar, hati-hati setan diam-diam masuk merusak hati kamu. Ingat selalu sama janji Allah, kalau jodoh insyaallah pasti bertamu."
Kamis, 28 April 2016 - , , 0 komentar

Karena Menjadi Muslim Bukan Hanya Sebuah Label

Dua bulan atau tiga bulan terakhir, saya mengalami banyak perubahan. Kesibukan tugas kuliah, tugas mengemban amanah sebagai salah satu kader UKM Kampus juga sibuk “memperbaiki diri”.
Di antara kesibukan saya yang lumayan menyita waktu dan tenaga, ada satu hal yang hilang. Pun yang bertambah. Salah satu yang hilang, yaitu berkurangnya waktu saya untuk membaca karya sastra (novel) juga menulis (cerpen maupun novel) yang masih on progress. Entah kenapa setelah sesuatu “merasuki” saya, saya merasa ingin ‘menomorduakan’ hobi saya untuk menulis dan membaca novel.
Ya, sesuatu yang “merasuki” itu adalah sebuah anugerah yang saya idam-idamkan dari dahulu, yaitu “BERHIJRAH”.

Yang saya tahu, hijrah adalah suatu proses di mana kita berpindah dari sesuatu (atau suatu tempat) ke sesuatu hal yang lain. Atau boleh disebut sebagai perubahan seseorang ke arah yang lebih baik. Dalam konteks ini, saya mengalami ‘hijrah’ insha Allah ke arah yang lebih baik. Yaitu menjadi muslimah yang 'kurang’ taat pada ajaran agama-NYA ke muslimah yang insha Allah ingin mengubah dirinya agar lebih taat kepada Sang Pencipta–ALLAH ta'ala.

Kisah hijrah saya entah dimulai sejak kapan. Yang pasti hal ini saya lakukan secara bertahap.
Jika ada yang mengatakan bahwa hijrah saya dimulai ketika saya mengikuti UKM Rohis di kampus, mungkin saya akan mengiyakan. Namun jika ada yang mengatakan bahwa Rohis Kampuslah yang menjadi satu-satunya penyebab hijrah saya, saya akan mengatakan TIDAK.
Karena, sejujurnya niatan berhijrah sudah ada dalam diri saya sejak dahulu. Sejak saya melihat dan mengamati kehidupan lingkungan hidup saya; terutama keluarga.

Saya hidup dalam lingkungan keluarga yang tingkat pemahaman agamanya cukup baik, namun belum terlalu dalam. Dengan itu setidaknya saya punya bekal sedikit kenapa saya memutuskan untuk terjun secara dalam untuk agama saya. Pada intinya saya ingin berislam secara utuh.

Ini bukan berarti saya ingin mengubah keislaman saya yang biasa-biasa saja ke islam yang luar biasa. Tidak ada istilah islam biasa atau pun islam yang luar biasa. Yang ada hanyalah islam yang taat dan tidak taat.

Seperti yang difirmankan Allah pada Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Karena menjadi muslim bukan hanya label, bukan meyakini sesuatu sebab itu adalah budaya. Kita mengaku berislam bukan pula sebab orang tua kita Islam. Saatnya berpikir lebih dalam, lebih luas. Mengapa kita Islam, mengapa kita harus patuh pada Allah. Lalu untuk apa keyakinan kita.
Senin, 11 April 2016 - , 0 komentar

Berdua Saja

-kita di antara kata yang tak terucapkan. Mungkinkah kau tahu jawabnya?-

---


"KUE nastar bikinan kamu enak, Dre. Apa resep rahasianya?"

Ketika itu, kamu bertanya untuk kali pertama. 
Satu tanganmu terus bergerilya mencomot kue nastar dari kotak yang penutupnya kuberi pita merah. Matamu tersenyum ke arahku.

Malam itu, kue nastar rasa pisang yang kubuat kusajikan dengan secangkir teh hijau favoritmu.

"Kenapa harus pisang? Biasanya kan keju? Kamu bereksperimen terlalu lucu. Pasti karena pisang makanan favorit monyet ya? Makanya kamu suka."

Aku hanya tersenyum. Mendapati dirimu yang suka menebak sembarangan. Apa hubungannya monyet dengan aku? Dia pikir aku mirip monyet?

"Kamu terlalu sensitif, Dre," katanya.

Ia menyingkap rambut agak panjangnya, kemudian kembali memakan kue nastar. "Dulu siapa yang bilang kalau monyet itu lucu?"

Aku mengangguk. Tersenyum. Dia... stalker hebat. Pasti dia sering mengikuti perbaruan postinganku di twitter.

***

Teras rumah, angin malam pertengahan bulan, aku dan kamu;berdua saja. Ditemani dua cangkir teh hijau kental dan satu kotak kue nastar rasa pisang. Sederhana, begitulah pertemuan kami. Dia sering menyebutnya sebagai amunisi cerita karena di dalamnya terdapat ledakan-ledakan yang tersembunyi, tak terucap dengan sebuah cerita saja.

***

Malam ini, aku menunggu di teras rumah. Sudah menyiapkan secangkir teh hijau kental dan dua kotak kue nastar.

Dia sangat menggemari kue nastar rasa pisang buatanku, oleh karenanya aku suka menyediakan banyak untuknya. Aku tidak ingin dia menghisap jari-jarinya ketika potongan kue nastar terakhirnya telah tertelan menuju ke perutnya.

Satu cangkir, kupikir cukup. Karena aku sudah merasa hangat ketika berada dekat dengannya. Menikmati angin malam yang dingin bersama ledakan-ledakan yang tak terdefinisikan. Sebenarnya ledakan apa? Aku bertanya.

Setengah jam berlalu, angin berembus makin kencang. Kurapikan khimar yang melekat di kepalaku. Aku tersenyum ketika dia datang dengan wajah serius.

"Aku serius denganmu, Drea." Dia berkata. Aku tersenyum. Kutahu, sejak awal dia datang kepadaku, ia sudah mengatakan bahwa ia ingin serius kepadaku. Maka dengan senang hati, kubalas keseriusannya dengan ketulusanku. Kubuat kue nastar rasa pisang hanya untuknya. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencicipi kue nastar rasa pisang buatanku, kecuali orang rumah. Itulah salah satu bukti penebusan keseriusannya kepadaku.

Aku mengangguk kecil. Lalu apa? Aku melihat ada perkataan yang ingin ia sampaikan, hanya saja serasa tersangkut di tenggorokan.

Menunduk, melihat ke arah ubin teras rumahku, aku mencoba menetralisir ledakan spekulasi yang berdesakan di otaku. Ada yang berbeda. Atmosfir malam ini terasa lebih pekat. Kupikir ini hanya perasaanku saja.

"Sejak awal kamu tahu kan, bahwa aku datang kepadamu untuk menjadikanmu pendamping hidupku? Seorang yang kelak akan menjadi ibu untuk anak-anakku?" Ia akhirnya menghela napas.

Aku menelan ludah. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Ketika aku menolak untuk diajak menonton film di bioskop berdua saja?

Ah, apa yang sebenarnya akan terjadi?

"Kamu takut kepada Allah, Dre?"

Aku mengangguk. Tentu saja, itu tak diragukan lagi. Belajar takut kepada Allah telah kurasakan sejak dahulu. Namun sayangnya, baru kulakukan dan kuterapkan akhir-akhir ini. Ketika beberapa kali aku mendengar seruan seseorang tentang batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Aku menolak pergi berdua dengan seseorang yang bukan mahramku hanya untuk tujuan hiburan. Ini bukan penolakanku karena tak mempercayainya, justru karena aku percaya dia orang baik, maka aku ingin menjaga kehormatannya.

Apa jadinya, seorang yang bersekolah di perguruan tinggi Agama, terlihat berdua keluar rumah untuk menikmati hiburan?

Setidaknya, itulah yang menjadi rujukanku.

Aku kembali mengembuskan napas. Sunyi.

Tunggu? Apakah dia...

"Aku ingin mengakhiri ini semua, Drea," katanya. "Kamu benar. Tak sepantasnya seseorang yang mengaku takut dengan aturan Tuhannya, tapi masih melakukan perbuatan yang dilarang. Termasuk pertemuan haram kita. Kita hanya berdua. Meski kita hanya diam, hanya mengobrol sembari menikmati secangkir teh hijau dan kue nastar, itu termasuk ke dalam hal yang dilarang. Bukankah, berkhalwat dengan non muhrim itu haram. Maafkan aku, Drea. Aku baru menyadarinya."

Ada rasa sakit dan rasa sedih mendalam ketika dia mengatakan itu. Meski di hatiku yang lain membenarkan perkataannya.

"Aku mencintaimu. Itu sudah pasti. Maka demi apa yang menjadi keinginan kita, aku harus menjauhimu." Ia mengusap wajahnya. Rasanya aku seperti melihat ketidakrelaan dia. Namun aku harus mengakui, bahwa dia telah belajar dengan baik.

Maafkan aku yang telah membuat pemahamanmu menjadi rancu. Aku... turut andil dalam semua kekafiran ini.

"Aku harus memperbaiki semua. Ketika persiapanku telah mantap. Aku ingin bertemu denganmu di pelaminan. Tentu aku dan kamu, berdua dalam amunisi cerita atas landasan yang diridhai Allah. Semoga kamu memahamiku."

Tentu saja.

Lalu, ketika ia berdiri dari kursi rotan di seberang sana, tanpa menyentuh kue nastar rasa pisang buatanku, satu tetes air mata keluar dari kedua bola mataku.

Aku mengamini, namun hatiku tetap saja berat melepas ia.

"Aku ingin menikmati kue nastar rasa pisang buatanmu dengan anak-anak kita kelak, Drea. Semoga malaikat mengamini dan Allah mengabulkan."

Sejak saat itu, aku ingin mencintainya karena Allah. Karena dengan begitu, kelak jika kami berjodoh, Allah mempertemukan kami dengan cara yang lebih romantis dari sekedar menikmati angin malam di teras rumah.

Dia yang kucintai saat ini akan kurelakan hanya untuk melihat bahwa janji Allah dalam al-quran tidak pernah ingkar. Insya Allah.