Kamis, 21 Mei 2015 - 0 komentar

Moses

MATANYA masih menatap saya. Sesekali dengan mimik wajah yang entah mengapa asing, saya merasa ada hawa tak mengenakan ketika jemarinya dengan cekatan mematik korek api untuk membakar ujung batang rokoknya.

                Dilihat dari badannya yang kurus kering, kantung matanya yang menghitam serupa dengan bibir yang saya ingat terakhir kali masih ranum. Ia nampak tak kukenali lagi. Sepintas, saya seperti sedang berbicara pada laki-laki berusia empat puluhan. Padahal yang saya tahu, dua hari yang lalu usianya baru genap dua puluh tujuh tahun. Satu tahun lebih tua daripada saya.

                Saya tahu keterkejutannya melihat saya tak bisa dianggap tak beralasan. Namun seharusnya dia tahu bahwa saya benar-benar tidak pernah melangar janji; pun sumpah yang saya ucapkan.

                “Untuk apa kamu kemari?” tanyanya dengan penuh kebencian.

                “Untuk menepati janji.”

                “Janji yang mana?” suara paraunya bebarengan dengan batuk yang ditimbulkan asap rokok yang dihisapnya kuat-kuat. Rasa-rasanya, pertanyaan itu seolah menuduh bahwa banyak janji yang telah saya buat dan banyak pula janji yang telah saya langgar. Saya masih menatapnya prihatin—antara bingung dengan kecewa. Seharusnya tidak seperti ini kejadianya.

                “Setahu saya, kamu tak pernah serius menghisap benda mematikan itu, Moses.” Dia tertawa sinis. Lalu ia letakkan batang rokok itu. Mematahkannya di asbak kayu yang tergeletak di atas meja.

                “Tahu apa kamu tentang saya.”

                “Saya tahu semuanya.”

                “Omong kosong!”

                Kini, saya yang tengah duduk dihadapannya sedang mati-matian memendam takut. Moses benar-benar telah berubah menjadi pribadi yang tak saya kenali. Rasanya saya seperti sedang menemui makhluk dari planet asing.

          “Saya kemari sekaligus minta maaf.”

          Dia tidak merespon. Diam.

          “Saya memahami kekecewaanmu.” Entah mengapa mata saya terasa panas memerhatikan wajah gelisah di depan saya. Kini rambutnya panjang. Dikucir dengan karet gelang bekas nasi bungkus. Kamarnya yang sempit sedikit terasa melegakan. Biasanya, berbagai lukisan dan kuas serta cat minyak berserakan. Kini yang tersisa hanyalah lukisan bunga mawar putih; yang enam tahun lalu saya tahu telah ditawar dengan harga tiga ratus juta. Namun Moses menolak. Dia bilang, lukisan itu tak akan pernah ia berikan pada siapapun. Pun dijual dengan harga selangit. Itu lukisan pertamanya. Saya, sungguh tahu benar maksud dibaliknya.

          “Jika kamu marah. Marahlah. Saya tidak akan membalas apapun." Kataku.

          Korden dekat dengan Moses itu seolah ingin menyadarkan Moses dari lamunannya. Beterbangan menyentuh kulit Moses yang hanya dibalut kaos tipis dengan bekas noda cat minyak disana-sini. Moses masih suka melukis. Lalu, dimana ia letakkan semua lukisannya?

          “Dimana lukisan-lukisanmu Moses?” tanya saya ketika saya mulai bosan karena hampir tigapuluh enam menit pernyataan saya tak direspon.

          Dia masih diam. Kembali mematik api keujung batang rokoknya yang baru. Menghisapnya. Menyemburkan asapnya kesembarang arah. Seolah saya tidak ada.

          Saya masih ingin menata hati saya. Saya tahu, hati Moses jauh lebih berantakan daripada hati saya saat ini. Pun sofa yang robek-robek yang tengah saya duduki saat ini. Biarpun saya masih tak tahu harus bagaimana supaya Moses mau mendengarkan ucapan saya. Setidaknya dia harus tahu bahwa saya datang bukan untuk menggali lubang kekecewaannya lebih dalam. Dia harus tahu, saya datang justru untuk membantu menutupinya. Meski dengan sisa-sisa tenagaku yang lemah.

            “Bicaralah apa saja Moses.” Dada saya mulai sesak. “Apa saja asal saya tidak merasa berbicara dengan manusia patung yang bernapas.”

            “Saya hanya ingin kamu pergi.”

            “Saya kemari karena sesuatu.”

            “Tidak ada.”

            “Ada.”

            “Apa?”

            “Kenangan.”

            Matanya kembali menatap saya yang mulai bicara ngawur. Entah apa yang sedang saya bicarakan. Sejujurnya saya tidak benar-benar tahu. Pun dengan kata kenangan. Pantaskah, saya yang meninggalkannya menyebut ‘Kembali’ dengan alasan kenangan?

            “Kenangan macam apa yang kamu sebut-sebut Resa?”

            “Saya tidak tahu. Tapi saya hanya ingin kembali untuk kenangan. Meskipun kenangan dalam ingatanmu adalah hal buruk yang pahit. Saya masih berharap ada sedikit kenangan yang masih bisa saya dengar. Atau bisa saya perbaiki.”

            Dia tertawa sinis lagi. Menertawakan ucapan saya.

            “Jangan berfilosofi di depanku Resa. Saya muak dengan dramamu.”

            Angin semakin kencang diluar sana. Kulihat, gerimis mulai datang.

            “Saya minta maaf.”

            “Tidak perlu. Saya sudah melupakan semuanya.”

            Air mata saya seolah tak sabaran untuk jatuh. Begitu berkedip, rasanya semua sesakku keluar. Dada saya semakin sakit.

            “Saya tahu itu bohong.”

            “Saya tidak sepertimu!!”

            “Saya tahu.” Kataku lemah. “Saya hanya ingin menjadi waras.”

            “Sejak dahulu kamu memang tidak waras.”

            Seolah tak mau menghentikan perdebatan ini. Moses menatap tajam kearah saya. Sedang menunggu perkataan saya. Lalu akan menjawabnya dengan nada tajam.

            “Saya tidak waras karena kamu Moses.”

            Ia menatapku tak percaya. Sedetik, melihat tatapan Moses seperti itu mengingatkanku saat kali pertama kami berjumpa. Delapan tahu yang lalu. Ketika kami masih sama-sama memakai pakaian putih hitam. Berdandan semacam badut. Rambut saya dikucir tiga. Serta berkalungkan papan kardus dengan tulisan bunga kesukaan saya; mawar putih.

Saat itu, topi kertas miliknya jatuh, dan saya tidak sengaja menginjaknya. Dia menatap saya marah.

            “Semenjak kali pertama kita berjumpa. Saya memang merasa menjadi seorang yang tidak waras.”

            Moses diam. Saya tahu, dalam diamnya sekelabat cerita ‘masa lalu’ yang tak sengaja saya buka kembali membuat memorinya memutar peristiwa-peristiwa itu. Dan saya masih berharap, kenangan pahit itu tidak ikut serta.

            “Saya bahkan pernah mendatangi pskiater untuk menanyakan masalah saya ini. Dua minggu lalu. Itupun dibarengi perdebatan sengit dengan batin saya selama lebih tujuh tahun.”

            Moses tidak bergeming. Kini matanya berkeliaran tanda hatinya sudah tak sangup menatap saya. Air mata disudut matanya yang cokelat. Menunjukan betapa sakit hatinya.

            “Harap kamu tahu Moses. Saya hancur saat meninggalkanmu..” tangisku pecah lagi. “Saat ini saya sedang tidak membela diri saya atas kesalahan yang saya buat. Saya hanya ingin menepati janji saya. Meskipun bagi kamu, saya sudah tidak berarti lagi. Begitu juga dengan kedatangan saya yang terlambat dua hari. Saya minta maaf.”

            Beberapa detik sunyi. Dia masih tidak mengatakan apapun.

            “Selamat ulang tahun Moses.” Kata saya menahan sesak. Kuseka air mata saya yang berjatuhan.

            “Maaf sudah lancang.” Saya tidak tahan. Masih menatap prihatin terhadap Moses. Entah kenapa saya ingin meluapkan segalanya pada dia. Dia harus tahu kondisi saya juga sama kacaunya dengan dia. “Saya merutuki diri saya sendiri selama dua tahun belakangan. Saya ingin menyalahkan takdir. Namun saya tidak berhak.”

            Dia menangis lagi. Air matanya tumpah bersama matanya yang terus memandang jendela kaca yang telah basah oleh cucuran air hujan.

            “Maaf.” Air mataku dan air mata Moses seolah membanjiri ruangan yang pada dua tahun perkenalan kami selalu kami jadikan tempat berbagi cerita. Saya dan Moses. Ingatan itu seolah memukul saya. Sekaligus menjadi alasan saya menepati janji.


            “Pergilah Resa. Temui laki-laki yang orangtuamu inginkan.”
            “Kamu tak pernah peduli dengan keinginan saya?”

            “….”

            “Baik. Saya pergi…” saya mengusap pipi saya. Pipi yang saya ingat selalu disentuh jemari Moses yang hangat. Menghapus pilu didada saya.

            “Saya hanya ingin mengatakan….”

            “Saya sudah mendengar pengakuanmu. Begitu juga permohonan maafmu. Saya terima. Saya memaafkanmu. Pergilah sebelum saya berubah pikiran.”

            saya mencintai kamu’ kata saya melanjutkan perkataan yang dipotongnya. Dalam hati. Biarlah. Ini hanya masalah memiliki dan tidak memiliki. Yang pasti, saya masih cinta Moses.
Selasa, 20 Januari 2015 - 0 komentar

Menunggumu

"Si Nana ngapain?" tanya Dita kepada Sari yang sedang sibuk bersama kertas tugasnya yang berserakan. Sembari mengambil keripik singkong di toples, ia berkata. "Nggak tahu tuh, palingan juga ngecenging Presiden."
"Hah? Presiden?" 
Sari langsung tersadar, "Duh, maksudku Presiden BEM lho." 
Dita manggut-manggut. Mulutnya sampai membentuk huruf o. "Tapi kayak mau jalan ke warung tenda deket kos Cendana." katanya sambil berjalan keluar. Ia amat memantau teman akrabnya yang dua minggu terakhir entah kenapa mulai aneh tingkahnya.
Sari mengedikkan bahu. Mulutnya sudah penuh dengan keripik singkong. "Ah, kayak nggak tahu Nana aja. Dia mah apapun dilakuin demi ketemu sang pujaan."
Dita manggut-manggut. Pikirannya ber-Oh lagi. Ini dia alasannya. Nana lagi jatuh cinta!

Setelah lebih satu jam menunggu, akhirnya Nana muncul di mulut pintu kosan. Membawa bungkus plastik berwarna hitam. Mata Sari langsung senang. Dirampasnya kantong plastik itu;berharap besar isinya makanan. Perutnya masih lapar. Maklum seharian cuma di isi dengan jajanan dan cemilan ringan.
"Gorengan doang apa nasi kucing Na?" tanya Sari antusias, sampai tidak menghiraukan wajah temannya yang manyun karena bungkusan plastik yang dibawanya direbut begitu saja.
"Yaelah, Ri. Baru nyampe. Belum duduk."
Sari tertawa. Tidak menghiraukan. Dibukanya dengan cepat bungkusan plastik itu.
"Habis ngapain,Na?" tanya Dita tanpa basa-basi. Rasa penasarannya tak tertahankan. Nana tersenyum malu, lalu duduk di atas kursi. Tidak menghiraukan teriakan Sari karena tubuhnya menginjak bahan-bahan kuliahnya; tugas yang sedari tadi ia kerjakan dengan susah payah. Dita menyimak Nana yang ekspresinya aneh.
"He.." Dita mencubit Nana. Tidak sabar. "Cerita, jangan senyum-senyum doang."
Nana nyengir. Senang hatinya. Apalagi, melihat wajah penasaran Dita, membuat pikirannya melayang-layang.
"Minggir dulu kek." Sari bertindak cepat. Membereskan kertas-kertasnya. Dan Nana tetap tidak menghiraukan.
"Tadi Presiden nggak dateng si.." katanya mulai percakapan. Mata Sari dan Dita beradu. Bingung.
"Tapi, aku ketemu salah satu anggota BEM Fakultas Hukum. Namanya Abi. Orangnya cakep. Pakai behel. Terus kacamataan gitu..."
Sari yang tidak menyimak betul, hanya sibuk dengan bungkusan yang dibawa Nana terdiam. Terkejut. Bukannya Nana nungguin Presiden BEM ya? kok malah ngomongin Abi?
"Kita kenalan" kata Nana melanjutkan.
"Kok bisa?" Dita makin penasaran.
Nana tersenyum. Makin lebar. Menganggukan kepalanya keras-keras. "Nggak sengaja sih. Gara-gara nasi kucing."
"Nasi kucing?" Sari dan Dita serempak.
Nana mengangguk lagi.
"Nasi kucing yang aku pesen itu adalah yang terakhir. Terus karena si Abi kepengen banget jadiaku kasiin. Terus dia kayak berterimakasih banget sama aku. Kita jadi ngobrol banyak hal."
Mata Sari menyipit, "Tentang Presiden BEM?" 
Nana tersenyum lagi. Kali ini matanya berbinar. "Nah itu dia."
"Maksudnya Na?"
"Aku nunggu dia, tapi Tuhan malah mempertemukan aku sama orang yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Bahkan pertemuan kami, entah kenapa sangat menyenangkan."
"Jangan mudah jatuh cinta Na." Dita memperingatkan.
Nana tersenyum, menggeleng.
"Tenang Dit. Aku emang gampang suka sama orang lain. Tapi, aku masih nunggu Presiden BEM kok."
"Hati-hati keblinger." Sari menimpali. Memakan gorengan sisa yang di beli Nana.
"Orang cakep emang menarik, menggiyurkan. Tapi nggak pernah bisa nggantiin posisi hati yang udah nancep banget. Kadang perempuan itu memilih sesuatu dari sesuatu yang dipilihnya pertama kali. Meskipun harus muter-muter dulu."
"Sok berteori." Sari melempar bantal. Dita pun tak kalah, ia mencubit Nana.
Kamis, 27 November 2014 - 0 komentar

Sebuah Pesan dari Kotak Kardus


ADA sebuah kotak; kardus berwarna cokelat yang terletak di bawah jendela kamarku. Permukaannya sedikit kotor—mungkin akibat gerimis tadi malam. Air yang berbenturan dengan tanah berdebu bercampur, mencipratinya. Aku yakin bahwa kardus itu sudah berada disana semalaman. Terakhir aku membuka jendela kamarku kemarin; pagi hari—ketika aku ingin menghirup udara segar setelah bangun dan aku yakin bahwa tidak ada satu karduspun yang tergeletak disana. Mungkin tadi sore atau malam hari diletakannya. Aku tak tahu, yang pasti aku penasaran dengan isi kotak itu.
            Aku mengambilnya. Lalu kubawa kotak kardus itu ke dalam rumah dan kubuka. Betapa terkejutnya aku ketika membukanya. Isinya hanyalah sepotong kertas lusuh, berwarna buram. Itupun tak disertai petunjuk orang yang mengirim. Dalam hati aku bertanya-tanya, siapa orang yang tidak punya kerjaan sehingga mengirimiku kertas lusuh dengan robekan di sisi-sinya ini?
Entahlah!!
            Seminggu berlalu, kemudian aku menemukan hal yang sama. Sebuah kardus tergeletak dibawah jendela kamarku. Tepat setelah semalaman hujan. Kali ini bukan gerimis. Yang aku tahu, semalam hujan cukup deras. Dan seperti biasa, kardus itu—kotak berwarna cokelat itu penuh dengan kotoran debu yang bercampur air. Anehnya, kardus itu tak pernah benar-benar basah. Kau tahu isinya? Tentu. Benar sekali. Sebuah kertas robekan. Sepotong. Hanya sepotong.
            Aku menghela napas. Agak kesal. Kenapa pula harus mengirim kertas ini? Kurasa orang yang mengirimnya benar-benar tak punya pekerjaan.

###

            Beberapa minggu ini, hujan tak turun. Seperti dugaanku. Kardus itu tidak ada, tidak muncul di bawah jendela kamaku. Lalu aku menunggu dan bertanya. Pengirim kotak kardus itu berhasil membuatku bertanya. Lalu aku berdoa—berharap bahwa Tuhan mengirimi hujan diwaktu dekat. Supaya aku bisa mengerti maksud si pengirim kotak kardus berwarna cokelat itu. Dan doaku terjawab tiga hari selanjutnya. Semalaman hujan dengan deras. Disertai petir yang menyambar. Aku menunggu ia—si pengirim kotak kardus. Berharap bisa bertemu. Atau setidaknya mengetahui sosoknya yang misterius.
            Semalaman—sepanjang hujan aku tunggui ia di depan jendela kamar. Meski sebenarnya aku amat takut dengan petir. Aku tak menutup jendela kamarku. Tak mengapa angin dan air hujan masuk, tak mengapa air itu membasahi tubuhku yang berdiri menungguinya. Rasa penasaranku sudah di ubun-ubun. Tak bisa aku hidup dengan penuh tanda tanya seperti ini. Awalnya kupikir ini hanyalah hal kecil—orang iseng yang tak sengaja membuang sebuah kardus dibawah jendela kamarku. Tapi, menemui kardus kedua, tak mungkin tak kesengajaan itu. Aku yakin, si pengirim ingin aku mengetahuinya secara sengaja.
            Namun, hingga pukul sebelas malam. Ketika hujan sudah reda. Dan kantukku datang, ia tak datang bersama kotak kardus itu. Aku ingin menyerah. Tapi di pikiranku, aku masih ingin menungguinya. Tak sengaja, tiba-tiba petir kembali menyerang. Membuatku reflek menutup jendela kamarku. Menutup kordennya, kemudian dengan cepat melompat ke atas kasur.
            Esok hari ketika kubuka jendela kamarku, aku sudah menemui kotak kardus itu. Terdiri dari dua kardus kecil. Masing-masing dalam keadaan sama seperti dua kardus sebelumnya. Dengan segera aku ambil dan kubuka. Isinya sama-sama kertas lusuh berwarna buram. Dan setelah kuteliti dengan seksama, ada satu huruf disetiap potongan kertas robek itu. Ejaannya aku rakit bersama kertas sebelumnya. Sesuai dengan urutan pemberian kardus itu, aku memperoleh satu kata; MAAF.
            Aku menghela napas. Kerutan dahiku bertambah. Aku benar-benar tak mengerti. Tapi kau tahu? Di sela-sela kotak kardus itu aku menemukan sebuah surat. Dengan segenap perasaan penasaran dan takut yang berpautan aku membacanya.

MAAF.
Kau mungkin bertanya-tanya tentang maksud dari ke empat kardus yang aku kirim untukmu. Kau mungkin menerka—mengira-ngira maksudku.
Jangan khawatir Kanaya, aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan. Meskipun ketika aku memberinya, aku sedikit memberimu sebuah teka-teki. Kupikir kau akan mengerti dengan cepat. Ternyata tidak. Tak apa Kanaya. Aku mengerti, selalu mengerti.
Kau sudah mengerti arti dari keempat kardus itu, kau pandai merangkai huruf Kanaya.
Kau tahu kenapa aku mengirimnya empat kardus? Saat hujan tiba dan pada malam hari?
Selain kata maaf, empat menunjukan waktu yang kulalui bersama perasaanku Kanaya. Kau tahu, sudah empat tahun aku mencintaimu. Maaf aku baru berani mengatakannya. Aku menyimpan perasaan ini. Tak berani aku mengatakannya. Dulu, aku terlalu bodoh. Dan sekarang tinggalah aku bersamaan dengan penyesalanku. Aku laki-laki, aku hanya tak ingin mencintaimu tanpa memiliki sesuatu yang bisa membanggakanmu. Tapi aku salah, menunggu sejatinya tak akan pernah usai. Menunggu bukan sikap kesatriya. Kata membanggakan itu seharusnya terjadi ketika aku berani mencintaimu secara terang-terangan. Bukan diam dengan kesunyian—sendiri, seperti arti kata malam ketika aku mengirimimu kotak kardus itu.
Kanaya, tahukah kau bahwa hidupku seperti di derai hujan? Ramai, tapi terasa dingin. Tak ada kehangatan kecuali dengan bantuan selimut. Selimut itu adalah kekuatan cintaku Kanaya. Perasaanku, entah kenapa membuatku seperti seorang bodoh dan dungu. Laki-laki yang memendam perasaannya pada seorang perempuan. Tapi tak sanggup mengungkapkannya.
Sejatinya, aku hanya ingin kau berpikir Kanaya, bahwa ada orang yang mencintaimu dalam diam. Bahwa ada yang mencintaimu ketika kau merasa tak seorangpun menyayangimu. Kanaya, meskipun tak dikatakan, perasaanku padamu tetaplah cinta.
MAAF, aku baru berani mengatakannya, meskipun sejatinya aku terlambat. Kau sudah dengan dia. Berbahagialah, aku tetap mencintaimu. Hatiku untukmu. Aku menjaganya seperti aku menjaga kertas lusuhku didalam kardus dari hujan. Kertas lusuh dan buram itu adalah serpihan hatiku—yang robek disisi-sisinya. Meski kotaknya sedikit kotor dan basah. Aku sudah berusaha menjaganya. Untukmu yang hatinya untuk dia.Kanaya...
-Sosok misterius ini sesungguhnya tidak penting,
Karena yang terpenting adalah hatiku. suatu saat kau akan tahu-
Minggu, 01 Juni 2014 - 0 komentar

Seperti Perahu

Seperti perahu
Hidup kita seperti perahu
Terombang-ambing ditengah lautan
Sekuat tenaga menyeimbangi air


Seperti perahu
Kisah kita seperti perahu
Terus mendayung agar terus berjalan
Melalui berbagai gelombang dan arus

Maka seperti inilah kita
Kau diujung sana dan aku diujung lainnya
Membawa air mata dan bahagia
Seperti inilah hidup kita

Diatas perahu yang berjalan entah kemana
Senin, 10 Februari 2014 - 0 komentar

Tentang Mimpi Menulis

Alhamdulillah, aku sudah agak maju selangkah untuk mencapai mimpiku menjadi penulis :D
aku lagi asyik nulis novel, doain deh biar selese akhir semester ini #Amin ;)
nulis itu ibarat nyemil, kalo lupa sehari aja. rasanya aneh, nggak gurih gitu .. Hahaha
tapi, itu sih menurut aku ya.
kadang, nggak ada inspirasi sama sekali, kadang sekali nulis dapet beberapa lembar. dan itupun harus segera dibaca berulang-ulang supaya bener, EYD atau kata-katanya. kan nggak selalu nyambung. jadi, biar singkron sama kalimat sebelumnya.

nulis itu gampang-gampang susah. Gampang kalo pas lagi inspirasi banyak banget memenuhi otak, jari berasa menari sendiri diatas Keyboard komputer. Empet alias susah kalo lagi BETE alias kepala tersumbat sama yang namanya pusing.

Katanya, untuk jadi seorang penulis, kita harus banyak membaca dan menulis. Dan tentu saja. Itu semua adalah benar, karena... Kan kalo mau nulis butuh inspirasi. Dan inspirasi datang dari mana saja. Termasuk saat membaca. Itu adalah Reverensi paling jitu dan tepat untuk inspirasi tulisan :)



Dan, yang pasti nulis itu harus punya FEEL supaya apa yang akan diceritakan bisa NGENA kehati pembaca, setidaknya pembaca mengerti alur cerita yang kita tulis.
gitu aja sih,
dan entar aja ya... Maksudnya curhatannya. lagi ngerjain TUGAS :D hehehe
Sabtu, 30 November 2013 - 0 komentar

Kata Mutiara Tentang Menulis




  1. "Write your first draft with your heart. Rewrite with your head." --Mike Rich
  2. "Menulis adalah mudah. Yang harus kamu lakukan adalah mencoret kata-kata yang salah." -- Mark Twain
  3. "Reading is more important than writing." -- Roberto Bolaño
  4. "The true writer has nothing to say. What counts is the way he says it." Alain Robbe-Grille
  5. "..Menjadi penulis sesungguhnya menjalani hari2 layaknya seorang pemimpi yg memiliki kehidupan ganda" -- Jorge Luis Borges
  6. "The role of a writer is not to say what we all can say, but what we are unable to say."(Anaïs Nin)
  7. "It is perfectly okay to write garbage - as long as you edit brilliantly." -- C. J. Cherryh
  8. "Writing free verse is like playing tennis with the net down". -- Robert Frost
  9. “A writer is someone for whom writing is more difficult than it is for other people.” ― Thomas Mann
  10. "I write to give myself strength. I write to be the characters that I'm not. I write to explore all the things I'm afraid of."- Joss Whedon
  11. "If you don't have time to read, you don't have the time (or the tools) to write. Simple as that." ― Stephen King
  12. “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” - Helvy Tiana Rosa
  13. “Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!” ― Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru
  14. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah" -- Pramoedya AT
Senin, 25 November 2013 - 2 komentar

Filosofi Membaca Buku

Pernah dengar kalimat "Jika ingin mengetahui bagaimana sifat seseorang 10 tahun mendatang, maka lihatlah teman yang ada disekelilingnya dan buku (bacaan) yang dia baca"

Kalimat tersebut menurut aku adalah benar. kenapa?
pertama adalah kenapa teman yang ada disekeliling(nya) dapat mempengaruhi sifat seseorang? Jawabannya tentu saja karena mereka saling mempengaruhi satu sama lain. benar kan?
lihat saja misalnya ada seorang yang dulunya polos, #maksudnya belum terpengaruh oleh sikap-teman-temannya.
setelah ia bergaul dan mendapat teman berandalan. secara tidak langsung.. semua kelakuan dan sifatnya mirip dengan kawan-kawannya.
Kedua-- Mengapa buku termasuk faktor yang mempengaruhi?
itu karena buku yang kamu baca juga mempengaruhimu.
misalnya seperti aku, aku adalah pecinta novel. Aku sering membacanya. Oleh sebab itu aku juga tertarik untuk membuat novel. artinya aku tidak ingin hanya membaca. namun bisa membuatnya.
Jika hal ini berlangsung lama, mungkin suatu saat atau 10 tahun yang akan datang aku, akan menjadi seorang novelis hebat. #Doa Amin!! ;)
Dan banyak yang mengatakan bahwa memang buku adalah salah satu faktor penentu sikap seseorang, Maka bacalah buku (bacaan) yang baik, supaya dapat memotivasi dirimu dengan baik juga.. :)